Feeds:
Posts
Comments

Archive for December, 2009

futur

seperti pasir
hidangan malam yang kau berikan
hambar menabur mata hati hingga terpejam
memandang kabur warna doa – doa diam
meredup hampir padam

seperti jelaga tanpa rupa
bagi langit yang kehilangan rembulan
ketika kelelawar menghisap pendaran cahaya
menjadi selongsong batu bernama pusara

aku adalah hujan bagi malam senyap
tak tau rasa mentari, hanya beku merayap
panggilan subuh, senja dan malam-Mu
dalam detik ini kuartikan dalam tiga arti :
muadzin bisu
,makmum tuli
,hatiku buta

Oh, aku tak ingin mati saat diriku mati !
bacakanlah seribu satu ayat yang kau kenangkan pada dinding hatimu
atau rajamkanlah nasihat jiwa pada udara disekitarku
biar kuhirup dalam – dalam wangi kasturinya untuk inderaku yang mati rasa

ikhwah, denting detik ini masih dibungkamkan hampa
maka kenangkanlah wajahku pada kedua telapak tanganmu
pada rajutan doa – doa yang mengudara ke langit lepas
: ku butuh kau,
kau ku butuh,
butuh ku kau.

Bandung, 18 Desember 2009

afm

Advertisements

Read Full Post »

KELUARLAH SAUDARAKU

Saudaraku kau tahu bencana datang lagi
Porak lagi negeri ini
Hilang sudah selera orang untuk mengharap
Sementara jiwa-jiwa nelangsa itu
Sudah sedari lama berbaris – baris memanggil – manggil

Keluarlah keluarlah saudaraku
Dari kenyamanan mihrabmu
Dari kekhusuan I’tikafmu
Dari keakraban sahabat-sahabatmu

Keluarlah keluarlah saudaraku
Dari keheningan mesjidmu
Bawalah roh sajadahmu ke jalan-jalan
Kepasar-pasar ke majelis dewan yang terhormat
Ke kantor-kantor pemerintah dan pusat-pusat pengambilan keputusan

Keluarlah keluarlah saudaraku
Dari nikmat kesendirianmu
Satukan kembali hati-hati yang berserakan ini
Kumpulkan kembali tenaga yang tersisa
Pimpinlah dengan cahayamu kafilah nurani yang terlatih
Di tengah badai gurun kehidupan

Keluarlah keluarlah saudaraku
Berdirilah tegap di ujung jalan itu
Sebentar lagi sejarah akan lewat
Mencari aktor baru untuk drama kebenarannya

Sambut saja dia
Engkaulah yang ia cari**

Sungguh indah puisi yang dituliskan oleh Bapak Anis Matta dalam bukunya “Dari gerakan ke negara”. Puisi yang bercerita tentang realitas pendakwah yang diharapkan oleh seluruh manusia untuk membawa kemahaslatan kepada seluruh penjuru negeri ternyata menjadikan nikmatnya nilai-nilai kebaikan dakwah untuk dirinya sendiri dan komunitasnya sendiri. Disinilah inti paradoks kita yang mengaku sebagai seorang pendakwah, tapi ternyata kurang memiliki sociallty power yang mumpuni sehingga tidak memiliki daya pengubah dan penggubah yang signifikan.

Memang, untuk menjaga kualitas kader dibutuhkan sebuah bentuk batasan-batasan. Namun bukan berarti sikap eksklusifitas yang akhirnya mendominasi gerak langkah kita. Dan bukan berarti juga kita harus bersikap inklusif seratus persen. Dibutuhkan sebuah bentuk keseimbangan yang tetap menjaga kualitas kader dan secara bersamaan juga memberikan pengaruh pada dunia luar.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…..(Q.S Ali ‘Imran : 110)”. Maka membangun integritas di tengah masyarakat mejadi hal yang mutlak dibutuhkan oleh seorang pendakwah. Integritas yang terbangun dari terasanya manfaat keberadaan kita yang akhirnya berkorelasi dengan terbangunnya pula kepercayaan.

Diri ini juga butuh pendakwah, kami, kita, engkau, kalian, mereka, dan semua juga butuh seorang yang menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Pendakwah pun juga butuh pendakwah lainnya, dikarenakan sifat manusia yang sering lupa dan dhaif. Maka dari itu, kumohon KELUARLAH SAUDARAKU !

Bandung, 26 Oktober 2009
Ditulis dengan penuh kedhaifan
afm

Read Full Post »

Entah berapa purnama lagi akan kulewati
Menanti dia duhai pemilik hati purnama
Berpendar hangat dalam pekat Sang Malam
Berpendar terang dalam kesucian para muttaqin.

Adakah diri ini pantas menanti?
Menanti keberadaan aroma akhlak yang menentramkan
Bersemai keindahan taman yakut dan marjan di beranda hatinya
Yang keindahannya adalah secawan embun untuk para musaffir

Dia bukanlah hijab bagi mata hatiku
Melainkan permata yang menjadi jalan cahaya
Yang membiaskan segala rahasia kehidupan
Menjadi paduan gradasi warna yang mudah dipahami

Dia bukanlah puja-puji kesempurnaan
Melainkan tasbih yang mesra melantun
Dihamparan gurun kehambaan dan penghambaan
Tercumbulah debu-debu karena kesejukannya

Kepada engkau pemilik senyuman madu dan mawar
Terjagalah sebening Kautsar ketaqwaan
Agar hatimu menjadi penawar bagi segala kegundahan
Karena aku, kadang begitu lemah untuk berdiri sendiri

Bandung, 25 Juli 2008

Afm

Read Full Post »

Nasihat dari remahan cahaya bulan
Untuk, sahabat Polkomzone

Ini, ambilah…
segenggam api dari goa mimpi – mimpi
mari lempar ke perapian kita
biar warna – warna sederhana datang
sapa menyapa sampai meneruskan terang

Ini, simpanlah…
kunci dari ruang putih di dasar jiwa
jika malam menikam bintang gemintang
atau siang memudarkan langit
masuk, bicarakan hari – hari kita

Ini, genggamlah…
seutas akar pohon pengetahuan
beri dia hidup dari hara ilmu kita
tumbuhlah, sejukan nuansa rasa
yang dialami para ilmuwan dan filsuf

Ini, bacalah…
paragraf – paragraf bercerita
ikuti riak hurufnya merangkai kata
agar jiwa menemukan diksi nyata
tentang kita

Ini, reguklah bersama…
nasihat dari remahan cahaya bulan
tebar temaramnya di sela hati kita
biar kulihat senyum wajahmu
mengartikan kita satu di hari – hari mendatang

Bandung, 15 Oktober 2009
afm

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Al Ashr:1-3)”

Read Full Post »

Subuh memanggil manusia dengan keras
Dalam adzan yang tertelan sayup-sayup kematian
Dan sajadah yang belum terbentang
Kan tetap terlipat hingga tertutup debu-debu

Puing-puing masih saja membisu
Menghantam semua jasad hingga parah
Menghujam marah, berdarah-darah
Memerah, tapi tetap saja membisu

Siapa yang terluka?
Manusia-manusia berimankah?
Atau para insan berjubah kemunafikan itu?
Aku masih bertanya, “Siapa yang terluka?”

Darah semakin memerah dan semakin berdebu
Debu dari manakah ini?
Dari abu reruntuhan itukah?
Atau dari dalam diri-diri kita yang kotor?
Yang keluar bersama darah dari luka-luka

“Ni sebenernya puisi buat gempa Jogja dulu, cuma mungkin makna tersiratnya sama kaya gempa kemarin yang di Tasik,,,”

afm

Read Full Post »

Kepada mereka yang mengukir sejarah dengan darah
Ketika udara menjadi pengap oleh deru nafas para penjajah
Terdengarlah nyanyian bidadari diantara kilatan pedang
Tertumpahlah telaga Kautsar bersama genangan merah

Pahlawan, engkau telah menuliskan puisimu
Diatas sehelai kafan tak dikenal
Untuk terus mengilhami denyut nadi peradaban
Agar kemerdekaan yang sebenarnya senantiasa mengangkasa

Diantara nisan sunyi seharusnya jiwa mengerti
Pada sumpah yang telah tertumpah di atas negeri
Memecah persendian para penjarah parah
Di garis batas toleransi yang meradang marah

Adakah penghuni istana itu membaca waktu lalu?
Dimana air mata menjadi sahabat yang begitu akrab
Timangan ibu Pertiwi pun tak lagi menentramkan
Bising oleh desing peluru memburu

Para raja mejadi tawanan di istana nafsunya sendiri
Ketika prasasti-prasasti masa lalu runtuh menjadi debu
Runtuh oleh api pendurhaka yang terlelap diatas singasana
Dalam mimpi gelap yang semakin lelap

Aku melihat serambi Firdaus di tanah ini
Dimana cerita kepahlawanan memenuhi ruang semesta
Namun di bukit ironi, aku juga melihat pesta para Dajjal
Menari – nari bersama koruptor – koruptor kotor

Dimana bisa kutemukan air wudhu kesejatian?
Agar bisa kembali pada beningnya fitrah
Pada satu harap yang membasuh seluruh cakrawala :
“Tanah ini tak lagi merana”

afm

Read Full Post »

Tafsir Kehidupan

Temaram nyala bulan
Menyelimuti tentram hati nyala
Menanya – nanya ku pada malam
Dalam wejangan doa – doa

Oh, para malaikat penjaga mimpi
Berikanlah ia secawan embun kesyukuran
Agar kesejukan cinta-Nya ia rasakan lebih dalam
Melebihi dalamnya hati sang kekasih

Agar bahasa kesunyian menyapa hatinya
Dan bercerita tentang makna
Hingga hatinya menjadi cermin yang utuh
Menapaki waktu dengan tangguh

Memungut kembali pecahan – pecahan pelangi kesabaran
Merangkaikan kembali keindahannya
Atmosfir yang ada pun seketika dipenuhi aroma surgawi
Hingga mengertilah jiwa tentang tafsir kehidupan abadi

Jakarta, 09 Mei 2007

Afm

Read Full Post »

Older Posts »