Feeds:
Posts
Comments

Archive for January, 2010

doa yang egois

Kawan, aku yakin engkau adalah seorang yang menghadapi kehidupan ini dengan penuh keoptimisan dan tawakal pada Allah SWT. Kau telah kerahkan seluruh potensi terbaik untuk kehidupan dunia dan akhiratmu, semata – mata kau niatkan sebagai bentuk ibadah pada Rabb. Engkau adalah orang – orang hebat yang aku bersyukur pada-Nya karena aku telah diperkenalkan padamu. Melalui akhlakmu aku jadi terwarnai oleh kebaikan, melalui semangatmu kau seolah berkata “Kawan, lawanlah aku. Kita lihat siapa yang akan menang”. Engkau telah menanamkan semangat berlomba-lomba dalam memperoleh kebaikan.

Kawan, aku juga yakin engkau adalah orang yang menjadikan ibadah yaumiyah sebagai energi untuk menjalani hari yang panjang, yang kau tempuh untuk mengejewantahkan mimpi – mimpi, untuk dakwah, untuk peradaban. Ya, engkau telah menemukan cara yang amat sangat tepat untuk menjaga semangatmu stabil atau bahkan meningkat tiap harinya, engkau telah menemukan formula untuk menanggulangi ruhani yang fluktuatif dan cenderung menurun agar tidak sampai titik nadir dan menaikan grafiknya kembali.

Engkau juga telah menjadikan doa sebagai senjata, senjata untuk membunuh kepesimisan. Dengan doa engkau bisa bertahan ditengah rintangan macam apapun. Karena sungguh, doa adalah senjata orang yang beriman. Dalam doa engkau berharap, dalam doa engkau takut. Dalam doa engkau minta dikuatkan, dalam doa engkau minta diringankan bebannya. Tapi aku mendengar ada sesuatu yang kurang dari doa – doa yang aku dan kau panjatkan tiap harinya. Dalam doa mungkin kau berkata :
“Ya Allah, ampunilah segala kesalahanku, maafkanlah aku, kuatkanlah aku, pahamilah ilmu padaku, condongkanlah hatiku ini untuk taat kepada-Mu, selamatkanlah aku dari siksa api neraka… ”

Kawan, adakah kau melihatnya. Adakah kau melihat kekurangannya. Bukankah rasulullah pernah bersabda, Dari Abuddarda’r.a. bahwasanya ia mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Tiada seorang hambapun yang Muslim yang berdoa untuk saudaranya yang tidak ada – yakni yang waktu itu tidak ada di sisinya, melainkan malaikat akan berkata: “Engkau juga memperoleh sebagaimana yang engkau doakan itu.” (Riwayat Muslim)

Dari Abuddarda’ r.a. pula, bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Doa seseorang Muslim kepada saudaranya di luar adanya yang didoakan itu adalah mustajab – yakni dikabulkan. Di sisi kepalanya ada malaikat yang diserahi untuk itu. Setiap ia berdoa untuk saudaranya itu dengan kebaikan, maka malaikat yang diserahi itu berkata: Amin – semoga Allah mengabulkan doamu itu – dan engkaupun memperoleh sebagaimana yang engkau doakan itu.” (Riwayat Muslim)

Ya, sekarang engkau dapat melihat kekurangannya. Kekurangan yang ada pada doa aku dan kau. Pada doa – doa yang tiap hari kita panjatkan ke hadirat –Nya. Pada doa – doa itu selalu saja “Aku” dan “Aku”. Jarang sekali kita berdoa “Ya, Allah rahmatilah si fulan, pahamkanlah ilmu pada si fulan, sembuhkanlah si fulan, berilah rizki yang baik lagi berlimpah pada si fulan”. Sungguh, tak ada yang dirugikan jika kita saling mendoakan. Sungguh, tak ada. Malah malaikat pun ikut mendoakan kita dengan doa yang serupa. Kawan, jika dalam berdoa saja kita egois, bagaimana dengan kehidupan nyata sehari – hari, pada sebuah kata yang sering kita ulang – ulang tiap harinya, “Ukhuwahnya tingkatkan, ukhuwahnya rekatkan”. Jika tidak kita mulai dari sebuah hal yang kecil dan sederhana namun dampaknya akan sangat luar biasa, yaitu doa. Maka ketika kita ditanya oleh seseorang, “Akhi/Ukhti, mana ukhuwahnya?” maka jawab saja, “Antum dah doain ana belum semalem?” (^_^)

Bandung, 28 Desember 2009

afm
“Untuk intropeksi bersama”

Read Full Post »