Feeds:
Posts
Comments

Archive for May, 2010

Di Pelataran

“untuk mereka yang ada dijalan ini, dikala suka; dikala luka.”

kala mentari pecah di putik siang dan beribu kelelawar memuntahkan gelap
kala itu gelas – gelas kristal berisi embun, hanyalah gerabah debu
bagi aku yang sedang kering cahaya, disekitar siluet hitam kerontang
penuh instrument parau dari gemerisik angin yang galau, tiada keheningan surau

dan mereka datang dari negeri empat penjuru angin
memberikan safir – safir cahaya untuk kamar jiwaku
mengajakku ke pelataran, duduk melingkar untuk mengeja gemintang
memindai kalam – kalam semesta, meneguk sejenak air dari tetesan tadabur
dan aku berkaca, aku berkaca

dan mereka datang, tidak mengajakku ke podium
hanya di pelataran sederhana, sekedar memaksa pongah terjengah
mereka cuma berkata, “dihadapan-Nya, kita debu yang sama kerdil”
tiba – tiba dada ini sesak oleh cinta! segala luka diseka air telaga makna

dimana baramu Tuan?
di pelataran ini mereka punya api untuk zaman yang malam
menyala – nyala bagai kilat cemerlang tanpa kedipan, tanpa dentuman
dipersembahkan hanya untuk Dia yang satu.

Advertisements

Read Full Post »

bergeraklah…

Sudah cukup lama saya tidak menulis , maka seperti kata pepatah yang sangat logis dalam penganalogian “Semakin diasah, maka pisau akan semakin tajam”. Pepatah yang telah mengendap dalam pikiran kita dari SD hingga kini. Seperti juga halnya dalam menyikapi keahlian yang kita semua miliki. Semua harus diamalkan, diimplementasikan, dikaryakan agar semakin ahli, semakin lihai, semakin pandai, semakin tajam layaknya pisau. Jika tidak, maka keahlian yang kita miliki tentu akan mengendap, berkarat, dan terkubur. Dilupakan zaman, walaupun sebenarnya “zaman” membutuhkan karya-karya yang terkubur.  Karena emas hanya akan terasa manfaatnya saat muncul kepermukaan tanah.

Ingin rasanya diri ini bisa produktif dalam berkarya,  karena berkarya merupakan satu-satunya jalan untuk berbagi manfaat dan kebaikan ,juga sebagai salah satu bentuk rasa  syukur kepada Sang Pencipta, Allah SWT yang menciptakan manusia dengan berbagai kelebihan dan potensi. Namun entah mengapa, terkadang diri ini sulit untuk bangkit dalam kevakuman yang panjang. Ya, seperti kata hukum kelebaman yang dipelajari di SMA, ia menyatakan “Benda yang bergerak akan cenderung untuk terus bergerak. Dan benda yang diam akan cenderung untuk terus diam.” Di pernyataan yang lain “Butuh gaya yang besar di awal untuk membuat sebuah benda bergerak, karena gaya gesek di awal lah penyebabnya.”

Saat diri ini sudah terlalu lama diam, dapatkah teman rasakan? Betapa beratnya untuk menjejakkan kaki pada langkah pertama? Betapa inginnya hati kita untuk bergerak, namun tubuh berkata lain? Maka yang harus teman lakukan dalam kondisi itu adalah, “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui (QS At Taubah : 41)”. Allah memerintahkan kita untuk terus bergerak, dalam kondisi ringan ataupun berat, sedih atau senang. Cukup Dia yang menjadi alasan bagi gerak langkah kita yang tiada henti. Cukup Dia yang menjadi sandaran tempat mengistirahatkan jiwa raga saat terjatuh, dan terjebak diam dalam kefuturan.

“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS At Taubah : 105)” Teruslah berkarya teman, karena dengan itu akan menunjukan bermanfaatlah waktu, berkembanglah ilmu, terjagalah diri dari keburukan. Jangan pernah diamkan diri ini dari keadaan diam. Karena diam itu menjenuhkan, membosankan, menjemukan. Bergerak itu menyegarkan, tidakkah udara bergerak yang kau sebut angin itu menyenangkan? Sukakah kau pada air yang membawa kesegaran dari hulu?

Dan menulislah, jangan biarkan tinta itu mengendap pada pena hatimu. Atau mengering sebelum menjelma jadi makna. Jika ternyata tanganmu membeku untuk menggoreskan pena, maka kemungkinan besar yang sebenarnya membeku adalah hatimu. Cairkanlah lagi dengan zikir dan istighfar, terangi lagi dengan amal – amal yang tertinggal. Karena sesungguhnya modal utama seorang penulis hanya ada 2, yaitu pena dan hati yang bersih.

“Duhai kata, semoga engkau dapat menjadi pengingat untuk semua kealpaan diri ini…”

Read Full Post »