Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2010

jika nanti aku bersedih
maka akan kubisikan sendu ku pada bulan mati
“duhai bulan mati, pekatmu hanya semalam.

esok juga berubah jadi sabit.”

pun jika nanti aku berbahagia
maka akan kubisikan suka ku pada purnama
“duhai purnama, terangmu hanya semalam.

esok juga cahayamu terkikis.”

karena bahagia diatas bahagia itu nanti
ketika sudah ada di taman surga
karena kesedihan dibawah kesedihan itu nanti
ketika sudah ada di tungku neraka

pijar kalam,

bdg, 20 Juni 2010

Advertisements

Read Full Post »

gejala jelaga

mentari tak pernah meredup sedikitpun
lalu kau tanya, “lalu bagaimana dengan malam?”
sebelum kujawab kau bertanya lagi, “bagaimana dengan mendung?”
tanyamu membusung dada, jawabku masih ciut membungkuk
“bagaimana dengan gerhana dikala terik?”

mentari memang tak pernah meredup
semenjak pertama kali ia dinyalakan
sinarnya adalah darah yang hidup
mengalir di sekujur tubuh langit
sampailah juga ke hangat muara senyummu

mentari memang tak pernah meredup
semenjak pertama kali ia dinyalakan
ia benderang diantara detak rahim
melalui retina bumi yang rindang
jatuh di bayang – bayang bunga rekah

mentari memang tak pernah meredup
semenjak pertama kali ia dinyalakan
karena redup itu adalah gejala jelaga
menghalangi warna bias permata
yang seharusnya menjadi pelangi warna

karena redup itu adalah gejala jelaga
diam – diam menusuk pekat, menghujam lekat
matamu membesar mencari titik cahaya
mungkin perlu kau singkap tirai jendela
agar kau lihat di cermin kamar refleksi diri

gerhana, malam dan mendung adalah gejala jelaga
yang tak kan pernah membuat mentari padam
karena mentari memang tak pernah meredup
singkapkanlah, biar nyala hati terus terjaga
dan panggilan Rabb kau seru lagi, jiwa siap berlaga

pijar kalam,

bdg 20 Juni 2010

Read Full Post »

Masih ingat saat pertama kali saya mengenal beliau lewat sebuah ceramahnya yang dapat lugas, cerdas dan penuh canda. Masih tergambar dalam ingatan, ketika itu saya mengikuti kuliah perdana di NTC. Ya, saat itu adalah saat dimana saya pertama kali bersentuhan dengan dunia IT secara lebih intens dan mendalam.   Kuliah perdana pada saat itu diisi oleh beliau, Bpk. Budi Rahardjo. Seorang pakar IT yang brilliant, dan mampu menggabungkan dunia teknik dan dunia seni, otak kiri dan otak kanan secara indah dan berimbang. Dan kemarin, tanggal 10 Juni 2010 saya bisa berkesempatan bertemu lagi dengan beliau. Pembawaannya masih sama seperti 3 tahun yang lalu, ramah, penuh canda, dan apa adanya. Sungguh senang bisa bertemu lagi dengan salah satu idola…yeah… (sayang, ngga sempet foto bareng.hiks T.T)

Saya memang belum membaca biografi beliau secara mendalam, namun dari 2 kali mendengar ceramah beliau, serta sedikit membaca buku – bukunya yang bertema IT, dan sekilas membaca sinopsis buku biografinya sudah cukup menggambarkan seperti apakah Budi Rahardjo itu? Mungkin kebanyakan dari kita membayangkan dunia IT, terutama para programmer-nya, adalah kumpulan orang – orang sakit jiwa yang memiliki kesenjangan terhadap kehidupan sosialnya, pribadi engineer IT adalah pribadi yang kaku, dan membosankan. Dan ternyata anggapan – anggapan itu sirna ketika mengikuti kehidupan Pak Budi ini.

Mungkin memang sudah seharusnya kita mengubah sudut pandang tentang pribadi engineer IT seperti yang disebutkan barusan. Menjadi seorang engineer IT tidak melulu statis, tidak melulu hitam dan putih seperti layar Command Prompt. Melalui kacamata seorang Budi Rahardjo kita akan melihat dunia IT yang penuh warna, seperti yang ada di logo Google, penuh dengan suara “twit-twit” burung – burung di pagi yang biru. Dengan menaruh sedikit “passion” dan “taste” maka IT akan lebih terasa “dynamic” dan “fresh”.

Akan sangat menyenangkan jika kemampuan teknis seorang engineer IT dipadukan dengan bidang keilmuan yang lain. Budi Rahardjo pun seorang IT yang berhasil menggali talent-talent yang dimilikinya untuk diformulasikan menjadi kompetensi tangguh. Praktisi IT yang juga bisnisman hebat, gitaris rock handal (brewoknya kaya John Petrucci..hehe), pembicara inspiratif, dosen berbakat, sekaligus penulis blog yang cerdas. Yang pasti, kata beliau kita harus berkarya dengan hati. Karena hanya yang dari hati lah yang akan menjadi karya masterpiece.

Mendengar ceramah dan gaya bahasa beliau, kita diyakinkan untuk terus melangkah menggapai visi – visi yang besar, menghadapinya dengan tenang (bukan santai…) dan dengan sedikit canda. Dan dengan ketekunan dan kesabaran untuk menapaki anak tangga pencapaian. Karena memang, yang membedakan antara maestro dengan junior adalah jam terbang. Yang membedakannya hanyalah maestro telah dilahirkan lebih dulu daripada anda dan ia telah mempelajari ilmu – ilmu tersebut lebih lama. Dan yang pasti setiap maestro memiliki “passion”  dan “desire” yang kuat atas setiap masterpiece yang diciptakannya.

Talk show hari itu akhirnya berakhir juga, saya sama sekali ngga bosan untuk mendengar beliau bicara. Gaya bahasa yang mengalir dan penuh dengan joke – joke yang segar membuat antusiasme saya stabil dari awal dan mencapai klimaks yang tepat saat akhir pembicaraan, sedikit ngintip blog beliau ternyata beliau bikin review untuk talk show di Politeknik Telkom, alamatnya di http://rahard.wordpress.com/2010/06/11/ke-mana-setelah-lulus/. Yah, semoga saja saya, Sang Junior dapat belajar dari pengalaman Sang Maestro 🙂

Read Full Post »