Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2010

The influence of childhood

Di Lebaran yang keempat ini (emang tiap tahun ada berapa lebaran si ?) tiba-tiba aja dapet inspirasi untuk nulis pas lagi ngobrol sama Ibu tentang masa kecil saya dulu. Kebetulan satu minggu ini ibu sedang libur dari pekerjaan kantornya, jadi beliau full di rumah dan saya juga satu minggu ini pun mendekam dirumah karena sedang libur idul fitri.

Selasa pagi ini, seperti biasa beliau sedang memasak di dapur dan saya duduk disekitar dapur (hanya duduk, ngga bantuin apa-apa :p). Saat sedang asik dengan aktivitas kami masing-masing terdengar tangisan “Tama” (anak tetangga red.) meraung-raung disekitaran gang rumah kami, 5-6 rumah mungkin terkena radius noise yang diciptakannya. Dan ibu pun bercerita, “Tama nangisnya kenceng banget ya, sama kayak kamu kecil dulu”. Saya langsung terdiam dan menyiapkan ancang-ancang untuk mencoba menangkis tuduhan-tuduhan itu. Dan dalam diam yang sesaat itu menerawang ke ingatan masa kecil, mencari ingatan-ingatan yang kontradiktif dengan tuduhan Ibu. Tapi apa daya, tidak menemukannya dan saya tetap diam.

“Ya, kamu masih inget ngga dulu waktu di Jawa pas mbah meninggal, kamu nangis kenceng banget gara-gara pengen gitar mainan yang dibawa sama seorang anak dikampung. Waktu itu tahun 92, berarti umurmu sekitar 3 tahun”. Ibu menambahkan ceritanya. Dan saya mengingat-ingat kembali, memang didalam memori saya ada ingatan tentang itu, walau samar-samar. Saya ingat gitar mainan yang dipegang anak kecil itu berwarna merah. Tapi saya ngga sadar kalau itu adalah hari meninggalnya mbah (map ya Bu, pas lagi berduka ditinggal mbah. Saya malah merengek-rengek sejadi-jadinya minta dibeliin gitar mainan. Maklum, nalar saya belum sampai untuk mencerna tentang kematian).

Dan sekarang walaupun masih belum professional banget, saya suka bermain gitar, saya suka dengan nada-nada yang timbul dari senar gitar dibanding nada-nada yang tercipta dari alat music selain gitar. Saya suka instrument gitar, dan saya banyak mengkoleksi mp3-mp3 yang lagu dan instrumentnya didominasi oleh gitar. Seperti Depapepe, Alex Fox, Joe Satriani, Ywngie, John Petruci, Secondhand Serenade, Dashboard Confensional, King of Convience, Once, dll, (oh iya, sekarang saya juga baru suka sama lagu2nya Ebiet G. Ade.. kalau kata orang dia “Penyair yang pandai membuat lagu”).  Singkat cerita, dari cerita tersebut saya jadi berpikir apakah mungkin kesenangan saya pada gitar bermula dari peristiwa tersebut?

Dan lagi mengenai kegemaran saya terhadap buku dan puisi, apakah ada peristiwa masa kecil yang membuat saya terobsesi dengan hal tersebut? Saya mengingat-ingat kembali, waktu kecil dahulu bapak memang suka membelikan saya dan kakak-kakak saya majalah Bobo dan Tabloid Fantasi. Dan saya bisa merasakan rasa senang yang muncul ketika tukang loper koran membawakannya tiap hari kamis (kalau ngga salah…).  Dan juga bapak pernah membawakan buku kumpulan-kumpulan puisi dari Kahlil Gibran dari perpustakaan SMP tempat bapak bekerja, padahal waktu itu saya masih usia SD. Dari kecil juga saya suka sekali dengan komik, mulai dari Crayon Shinchan (sampai jilid 42 lengkap), Our Field of Dreams, Shaman King, Get Backers, dll…

Akhirnya saya berada pada satu hipotesa (jika tidak bisa dibilang sebuah konklusi) bahwa peristiwa-peristiwa masa kecil sangat berpengaruh terhadap masa depan si anak. Ia akan melihat memori masa kecilnya sebagai mozaik-mozaik yang pada pikiran kecil mereka dahulu yang sulit untuk dilihat dan dipahami, namun ketika sudah beranjak dewasa, nalarnya melihat memori masa kecil tersebut sebagai sebuah gambaran yang utuh.

Bagi pecinta komik, kalau udah baca “20th century boys” dapat mengambil hikmahnya deh. Inti dari cerita komik tersebut adalah tentang sekelompok orang-orang yang memiliki memori masa kecil yang sama. Pada saat mereka kecil, mereka bermain bersama dan menskenariokan khayalan-khayalan masa kecil mereka, entah itu monster yang akan menghancurkan kota Tokyo dengan virus, pesawat UFO, dan senjata laser beam yang digunakan untuk mengalahkan monster tersebut. Singkat cerita, saat mereka dewasa, salah satu dari mereka benar-benar merealisasikan khayalan-khayalan masa kecil mereka. Dan dari situlah bencana dimulai… (biar lebih seru, baca aja komiknya…hehe)

Maka tidak heran ada istilah Golden Age pada ilmu kedokteran saat ini, yaitu masa sekitar 0-5 tahun dimana kemampuan otak untuk menyerap informasi sangat tinggi.  Pada masa itu Imam Syafi’I telah hafidzh Quran, para ilmuwan telah diperkenalkan dengan ilmu-ilmu, para musisi diperdengarkan dengan nada-nada, para penulis disuguhkan buku-buku oleh orang tuanya.

Sudah saatnya kita memang memberikan yang terbaik bagi adik-adik kita (anak-anak bagi yang sudah memilikinya red.) dimasa Golden Age-nya. Pelajaran akhlak dan budi pekerti, tentang tauhid, tentang Islam dan Ilmu pengetahuan, tentang seni, bahasa, budaya, dll dll…

Ini hanya sekelumit opini dari saya, semoga bisa bermanfaat. Bisa buat persiapan kalau nanti sudah punya anak..hhe.. Cerita diatas juga hanya pengalaman yang saya rasakan, bukan untuk dijadikan tolak ukur apapun. Karena sampai saat ini ya saya masih begini-begini saja, atau mungkin ada yang salah dengan Golden Age saya??? Wallahu’alam..hhe

Read Full Post »


tiada kutatap langit pada senja itu
melainkan kau berada di pucuk pelangi
menepi aku dari akar-akar warnanya
menjadi siluet bagi indah segala gradasimu


angin malu-malu menghampiri gada-gada
di kaki langit yang mengisyaratkan cerah
di jengkal kalbu yang mengisyaratkan rindu
dalam aku hampa udara, seluruh gemuruh luruh


biru yang hendak kunyatakan pada samudera
terhisap malam yang merasa belum pantas bertemu pagi
dan bisu ku segala jelaga-jelaga
dan risau ku keringkan tinta kata per kata


embun rerumputan, oh embun rerumputan
bukan karena engkau melekat pada siapa
kelopak mawar sekalipun bukan apa-apa
hanya suci menjadikanmu siapa


pada hari dimana nada detik adalah detak nadi
pada hari itu pula biarkan aku belajar
menjadi tiang yang cukup kokoh untuk menopang atap cerita,
lengan yang cukup kuat untuk mengayuh bahtera,
pundi-pundi bagi segala keberkahan rezeki,
teman bicara yang cukup cerdas untuk berbincang
tentang headline surat kabar hari ini,
da’i yang mampu menjawab tanya-tanya mu tentang Dia,
dan mata yang mampu menunjukan jalan-jalan cahaya


pada hari dimana nada detik adalah detak nadi
pada hari itu pula hening untuk yang terkagum
adalah dataran kaca yang tercipta dari danau dasar hati
biarkan tenang riak dan sejuk airnya aku rasa sendiri
sampai Illahi tunjukan kemana sungai-sungainya harus mengalir

pijar kalam,

Bdg, 22 Ramadhan 1431 H

Read Full Post »