Feeds:
Posts
Comments

Archive for November, 2010

“Saat anda benar tidak ada yang ingat, saat anda salah tidak ada yang lupa.”

Kata diatas saya ambil dari status FB temen saya yang ia ambil dari kutipan salah satu novel Paulo Chelo. Ungkapan diatas cukup menggelitik kita. Dari kita juga barangkali pernah mengalami hal serupa, saat diri ini sudah mempersembahkan karya terbaik, hasil kerja yang luar biasa yang dikerjakan dengan segenap ikhtiar tapi tidak ada yang mengapresiasi, tidak ada salam atau sekedar ucapan terima kasih. Dan juga sebaliknya ketika tersandung sekali padahal jalan yang kita tempuh sebelumnya hampir tanpa cacat dengan serta merta orang lain memerhatikan kita, mengeluarkan kritik-kritiknya, seakan mereka akan mengingat kesalahan kita itu untuk seumur hidupnya.

Mungkin memang seperti itulah tabiat sebagian besar manusia yang hidup di bumi ini. Sedikit mengapresiasi, lalu sering sekali mengkritik kesalahan. Sebenarnya hal ini tidak jadi masalah jika kita memandangnya dari sudut pandang yang tepat, dalam agama pun kita dianjurkan untuk melakukan a’mar ma’ruf nahi munkar. Apalagi dipandang dari sudut kepemimpinan, menerima kritik  adalah salah satu soft skill yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin.

Bagaimana tidak, pemimpin adalah pusat perhatian dari sebuah komunitas. Gerak-gerik Sang Pemimpin selalu dapat jadi bahan pembicaraan yang patut diperbincangkan. Segala kebijakannya selalu ada celah untuk dikritisi dan dikomentari. Perkataannya laksana anak panah, yang sekali terucap tidak bisa dikembalikan lagi dari busurnya, sejarah merekamnya jadi janji. Maka pemimpin yang mendapatkan kritik adalah sebuah keniscayaan.

Kalau kita tengok kembali ke peradaban emas yang pernah jadi sorotan dunia. Umar Radiallahu anhu pun sering menerima kritik, masih terbersit dalam benak kita ketika salah seorang sahabat mengkritik baju yang dikenakan Umar. Saat itu Umar hendak berpidato kemudian seorang yang bernama Salman Al Farisi bangkit seraya berkata:

“Demi Allah, kami tidak akan mendengarkannya, demi Allah kami tidak akan mendengarkannya!” “Kenapa wahai Salman?” tanya Umar dengan rasa menyesal. “Yah…”, ujar Salman al-Farisi, “karena anda mengistimewakan diri anda dari kami: masing masing kam hanya diberi sehelai baju, tetapi untuk diri anda…, anda mengambil dua helai!”

Umar pun melayangkan pandangannya kepada kerumunan orang-orang, kemudian tanyanya:

“Dimana Abdullah bin Umar?” “Inilah saya wahai Amirul mu’minin”, ujar Abdullah sambil bangkit dari duduknya. “Kain siapakah yang saya pakai sehelai lagi?” tanya Umar kepada puteranya. “Kain bagian saya, hai amirul mu’minin!” jawab Abdullah di hadapan khalayak ramai sambil menghadapkan wajahnya kepada Salman dan orang-orang disekitarnya.

Kata Umar pula:

“Sebagaimana tuan-tuan ketahui, saya ini bertubuh tinggi, sedangkan kain bagian saya pendek, mala Abdullah pun memberikan kepada saya bagiannya, dan oleh saya dipakai untuk menyambung baju saya”.

Dengan air mata berlinang disebabkan kebanggaan dan kepercayaannya, Salman berkata: “Alhamdulillah, sekarang katakanlah wahai Amirul mu’minin.. dan kami akan mendengar dan mentaatinya..”

Umar mempersilahkan umat untuk mengeluarkan pendapat. Umar meminta umat untuk bersuara dan mengkritiknya. Selama kritik itu benar dan membangun adanya, maka niscaya Umar pun akan memenuhinya. Beliau tak segan-segan mendengarkan dan menerima kritik dari umatnya. Dan Umar menjadikan kritik itu sebagai self-controlling ketika dirinya terlupa dan kelewat batas. Karena kritik merupakan salah satu bukti kecintaan Umat kepada pemimpinnya. Kritik merupakan pertanda umat masih peduli akan masa depannya. Jika di suatu bangsa rakyatnya apatis terhadap pemimpinnya, skeptis karena sudah terlalu lama dan terlalu sering didustakan pemimpinnya. Maka kehancuran bangsa tersebut tinggal menunggu waktu.

“Aturan kepemimpinan nomor 1: semuanya adalah salah saya.”

Sebuah quotes menarik yang saya temukan di internet. Sebuah kutipan yang menyiratkan bahwa segala sesuatu yang kurang, yang miring, yang ganjil, yang rusak, yang hilang adalah kesalahan Sang Pemimpin. Ya, semua adalah kesalahan Sang Pemimpin. Pemimpin lah yang harus mempertanggungjawabkan semuanya. Pemimpinlah yang harus mengisi yang kurang,  menggenapkan segala yang ganjil, membenarkan segala yang rusak, meluruskan segala yang miring, menemukan segala yang hilang. Maka kewibawaan seorang pemimpin dapat terlihat dari menerima semua permasalahan sebagai hutang yang harus diselesaikan. Walau pada hakikatnya permasalahan yang ada belum tentu bersumber dari kebijakannya. Dan pemimpin yang bersahaja selalu menerima permasalahan tanpa mempersalahkan permasalahan itu pada orang lain.

Dan tidak jarang kita lihat pada saat ini, para wakil rakyat kita di Parlemen sangat anti-kritik. Baru di demo sedikit saja langsung ngambek, dan mengeluarkan sejuta alibi untuk berkilah. Untuk terhindar dari segala tuduhan. Kalau sudah mentok, ujung-ujungnya mengadukan kasus ke pengadilan dengan alasan “Pencemaran nama baik”. Tidak jarang juga ada yang memiliki back-ingan ormas untuk meng-counter aib-aib para petugas duduk dan tidur di kursi parlemen itu. Sebenarnya tidak usah mengadukan ke pengadilan dengan alasan “pencemaran nama baik”. Sikap para pemimpin kita itu sudah cukup untuk mencemarkan dirinya sendiri.

Memang seperti itulah hubungan rakyat dengan pemimpinnya dibangun. Sebuah keselarasan dan harmoni yang terbangun dari saling memberikan perhatian. Pernah juga membaca sebuah tulisan yang intinya seperti ini, “Pemuda dan mahasiswa harus memposisikan dirinya sebagai oposisi konstruktif”. Karena dengan menjadi “oposisi konstruktif” diharapkan para pemuda dan mahasiswa dapat menjadi “agent of change” dan memiliki fungsi controlling terhadap kinerja pemerintahan tanpa kehilangan sikap kritisnya.

Kepada saya pribadi khususnya dan kita semua calon pemimpin masa depan. Semoga kita dapat menjadi insan yang legowo menerima kritik. Layaknya para khalifah. Layaknya Umar dan pemimpin besar Islam lainnya. Karena sungguh, kita yang akan menggantikan pemimpin-pemimpin kita sekarang. Yang akan melanjutkan tongkat estafet perjuangan umat. Di akhir tulisan saya ini, izinkan saya menyisipkan salah satu puisi dari Bunda Theresa yang sangat indah…

“Anyway”


Orang sering sulit dimengerti,

tidak berpikir panjang dan selalu memikirkan diri sendiri,

namun demikian ampunilah mereka.


Bila Anda baik hati,

orang mungkin menuduh Anda egois,

atau punya mau,

namun demikian tetaplah berbuat baik.


Bila Anda sukses,

Anda akan menemui teman-teman yang tidak bersahabat,

dan musuh-musuh sejati Anda,

namun demikian teruskan kesuksesan Anda.


Bila Anda jujur dan tulus hati,

orang mungkin akan menipu Anda,

namun demikian tetaplah jujur dan tulus hati.

Hasil karya Anda selama bertahun-tahun,

dapat dihancurkan orang dalam semalam,

namun demikian tetaplah berkarya.


Bila Anda menemukan ketenangan dan kebahagiaan,

mungkin ada yang iri,

namun demikian syukurilah kebahagiaan Anda.


Kebaikan Anda hari ini sering gampang dilupakan orang,

namun demikian teruslah berbuat kebaikan.


Berikanlah yang terbaik dari Anda dan itu pun mungkin tidak akan pernah memuaskan orang,

namun demikian tetaplah memberi yang terbaik.


Pada akhirnya. . .

Perkaranya adalah antara Anda dan Sang Kholik dan bukan antara Anda dan mereka.

Bandung, 25 Nov 2010

Pijar Kalam

Advertisements

Read Full Post »

pesta pagi

pagi ini embun mengajak kawan-kawannya turun

mencumbui bumi dengan sunyi

mendinginkan panas dalam

dalam bumi



embun menjamu kawan-kawan langitnya itu

berbagi daun, berbagi ranting, berbagi debu

membeningkan warna dalam

dalam hari



bersama kawan langitnya itu embun menanti

tuan matahari yang sebentar lagi tiba

ikut meramaikan pesta pagi

mengantar embun kembali ke pelukan langit

meninggalkan jejak pelangi

menyembuhkan luka dalam

dalam hati



“Inspirasi dari hujan di pagi hari”

Jakarta, 23 Nov 10

Pijar Kalam

Read Full Post »

mengatakan “nggak akan kalah” dalam kompetisi akan membuat kita tinggi hati dan lengah terhadap kemampuan lawan. begitu pula mengatakan “nggak akan menang” akan membuat kita benar2 kalah sebelum bertanding. maka sebaiknya katakanlah, “saya akan mempersembahkan yang terbaik…” karena hal itu akan menguatkan hati dan memFOKUSKAN KITA PADA PROSES.

Read Full Post »

Perjalanan Sabtu

Kemarin dapat wejangan dari acara “kamisan FLP” di selasar Masjid Salman. Pembicaranya bilang, “kalau mau jadi penulis professional itu ngga mesti menunggu mood. Karena nggak jarang juga tulisan yang dipaksakan itu akan menghasilkan karya yang luar biasa”. Yah, mungkin lebih pas kalau kita senantiasa menjaga mood pada titik yang konstan. Sehingga perasaan senang dan nyaman terus terjaga dan menghasilkan ide-ide yang segar. Disini, di rahasia berkarya secara konstan atau istiqomah kalau saya boleh menyimpulkan maka akan tersirat pada dua kata, yaitu fokus dan produktivitas.

Maka langsung saja pada cerita perjalanan saya di sabtu yang sejuk ini (mendung seharian, diguyur gerimis juga sedikit). Hari ini rencananya akan memenuhi agenda di salah satu tempat di daerah Kopo yang berbatasan dengan Soreang. Perjalanan pun dimulai dari PGA. Di awal perjalanan disambut dengan gerimis yang cukup mendinginkan suasana. Saya dengan salah satu sahabat saya duduk sambil menunggu gerimis reda. Ditengah penantian pada gerimis, kami diperlihatkan dengan seorang bapak yang berjalan dengan, maaf, ngesot. Si bapak berjalan tertatih dengan kedua tangannya. Menembus gerimis yang hampir reda. Mungkin bagi orang yang normal mudah saja berjalan cepat atau sedikit berlari menuju tempat tujuan. Namun ini, Sang Bapak harus rela separuh badannya kotor karena jalanan yang dilaluinya basah, laju jalannya pun mungkin hanya seperempat kali kecepatan jalan orang normal. Belum lagi dengan kendaraan bermotor yang lalu lalang, knalpot sepeda motor yang posisinya berada dibawah tentu mengeluarkan asap yang posisinya tepat di wajah Sang Bapak. Hah, perasaan melankolis itu kembali muncul. Didukung dengan settingan tempat yang gerimis syahdu. Tersadar lagi diri ini, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Yang mana ya? Kalau mau dihitung pasti sudah banyak banget yang luput dari rasa kesyukuran. Sudah berapa maksimal juga diri ini mendayagunakan potensi diri untuk kearah kebaikan secara maksimal? Jadi teringat pesan khotbah Jumat beberapa minggu yang lalu. Sang Khotib bilang, “Hendaknya untuk urusan dunia kita senantiasa tawadhu dan melihat kebawah, sedangkan untuk urusan akhirat selalu lihatlah keatas.” Pesan dari Sang Khotib pasti sedang menceramahkan Bab tentang syukur. Saya menyimpulkan sekenanya karena tidak terlalu fokus mendengar khotbah dari awal.

Dan perjalanan kami lakukan setelah hujan reda, kami melewati rute Sukapura – Mengger – Muhammad Toha – Soekarno Hatta – Kopo – Hampir Soreang. Seperti yang kita ketahui bersama, jalan-jalan yang ada di daerah sini didominasi oleh truk-truk beroda sepuluh. Wajar saja jika hujan turun asap bercampur lumpur akan memenuhi rongga hidung. Benar-benar jalanan para lelaki. Perempuan seharusnya tidak boleh melalui jalan ini. Terlalu kasar untuk hatinya, belum lagi angkot yang bersliweran bak bom bom car. Klakson para pengendara yang terperangkap di belakangnya dianggap supir sebagai alunan musik klasik saat hujan, menentramkan dan melemah-gemulaikan gayanya menyupir.

Volume kendaraan pada jalan Kopo juga sangat besar. Terbukti dari jalanan 4 jalur yang ada jika ada kendaraan yang berhenti sebentar, atau ada supir angkot yang bersin sehingga memelankan laju angkotnya niscaya kemacetan sepanjang 500 meter secara instant langsung terjadi. Lebih cepat jadinya daripada kita buat mie instant.

Dan kita skip cerita ini sampai pada perjalanan pulangnya. Karena pada tempat tujuan kita hanya duduk-duduk sebentar (apa-apaan ini?! jauh2 dateng cuma buat duduk-duduk..hehe). Perjalanan pulangnya hampir sama dengan perjalanan datangnya. Jalanan masih macet merayap. Para supir angkot masih menggoda para pejalan kaki untuk naik ke angkotnya dengan berjalan pelan mengiringi pejalan kaki tersebut. Truk-truk beroda sepuluh pun masih asik melaju sesekali meraungkan klakson yang seperti ban meletus. Dan itu suka-sukanya supir truk memencet tombol klakson, membuat jantung ini juga serasa meletus. Hanya saja yang berbeda pada perjalanan pulang adalah intensitas cahaya yang mulai meredup, dikarenakan perjalanan pulang terjadi pada waktu sekitar ashar menjelang maghrib.

Perjalanan saat senja selalu saja membuat suasana dilambatkan setengah kali, lalu lalang mobil, para pejalan kaki, pepohonan yang bergoyang-goyang diterpa angin atau sengaja digoyangkan anak kecil untuk menggoda temannya agar air yang tersisa di daun-daunnya runtuh membasahi kepalanya, semua terjadi pada gerakan slow motion. Jadi walaupun kondisi jalan masih kejam dan kasar seperti saat kami datang, karena senja semuanya menjadi ramah. Supir-supir angot dan truk tersenyum manis menyapa para pengguna jalan. Klakson-klakson yang bertebaran yang seharusnya treble tingkat tinggi. Kini terasa sangat bass dan begitu empuk terdengar telinga. Senja memang begitu ajaib. Menyepuh yang kasar menjadi halus, mengubah yang gundah menjadi damai dan indah.

Ditengah perjalanan pulang, seorang sahabat saya yang tidak tahu mau disebut namanya atau tidak (Belum izin sama orangnya, hey Dit. Kalau baca tulisan ini namamu mau disebut apa ngga? Ups…) menyarankan untuk mengikuti kajian keislaman di LPKIA. Maka tanpa pikir panjang x lebar= luas lagi, maka kami mengubah haluan kemudi motor menuju kampus LPKIA yang berada di bilangan jalan soekarno-hatta.

Setelah memarkirkan motor, langsung saja kami  menuju TKP. Dan ternyata kajian yang sedang berlangsung adalah tentang “Bab Menuju Pernikahan”.. oooh tidaaaakk. Mengikuti kajian dengan tema ini selalu saja membuat hati dag dig dug. Ya sudahlah, semoga saja bermanfaat. Dikajian ini saya akan sedikit menyimpulkan hasil dari kajian tersebut. Yaitu step-step menuju pernikahan:

  • Yang pertama dimulai dengan ta’aruf.
  • Kemudian nadzor, yaitu melihat calon pasangan.
  • Dilanjutkan dengan Ijab Qabul.
  • Dan Walimatul Ursy atau pesta pernikahan…

Sebenernya di kajian di bahas panjang lebar, mungkin kesimpulan saya diatas adalah intisari dari konstentrat ilmu menuju Pernikahan tersebut.  Dan demikianlah perjalanan saya hari itu ditutup dengan sebuah majelis ilmu, majelis yang dinaungi oleh malaikat dan diberikan ketentraman bagi orang-orang yang hadir didalamnya. Alhamdulillah, sampai jumpa di perjalanan hikmah selanjutnya 😀

 

Read Full Post »