Feeds:
Posts
Comments

Archive for December, 2010

Rumah Api

Dunia dirasanya tak adil. Yang dia rasa semenjak bersekolah di sekolah dasar sampai sekarang telah duduk di kelas satu SMA ia merasakan kesempitan selalu melanda keluarganya. Perjalanannya menempuh pendidikan pun tak semulus orang-orang kebanyakan. Tas sekolah yang ia pakai sampai sekarang bisa dihitung dengan jari,itu pun jari pada satu tangan. Yaitu dua kali. Selama SD satu tas hitam kumal yang sekarang telah dilungsurkan pada adiknya, kemudian tas SMP yang terus dia pakai, mungkin akan terus dipakai sampai kelas tiga SMA nanti.

Sore itu, selepas pulang sekolah Ardi pun berjalan menyusuri trotoar menuju ke gang sempit dimana rumahnya berada. Perjalanannya sore itu tidak seperti biasanya, ia berjalan menunduk memandangi jalan. Sambil memandangi sepatu usangnya, ia mengingat-ingat lagi kejadian di sekolahnya. Tahun ajaran kali ini telah berlangsung selama dua bulan, dan para siswa seharusnya telah membeli semua buku pelajaran dan Lembar Kerja Siswa (LKS) sebagai media penunjang belajarnya. Dan banyak juga dari guru mata pelajaran yang telah memberikan tugas dari buku-buku tersebut. Dan hingga saat ini Ardi belum memiliki satu pun buku tersebut. Ayahnya yang hanya sebagai tukang jahit pakaian menjanjikan seminggu lagi akan memberikan uang untuk membeli buku. “Seminggu lagi jahitan pesanan sudah selesai, tapi uangnya hanya cukup beli beberapa buku, beli buku mata pelajaran yang utama dulu ya..” Begitu ayahnya berujar.

Sesampainya di rumah, Ardi melepaskan sepatu usangnya sekenanya. Kemudian beranjak untuk berwudhu ke kamar mandi. Selepas sholat Ashar biasanya Ardi menyelesaikan pekerjaan rumah tangga sisa tadi pagi. Segala piring dan cucian kotor adik-adiknya dibersihkannya. Ibu Ardi meninggal saat melahirkan adik bungsunya yang kini sudah berumur dua tahun. Sehingga Ardi pun turut membantu pekerjaan rumah tangga dan mengurusi adik-adiknya selagi ayahnya bekerja di kios jahitnya.

Perasaan galau yang ia bawa dari sekolah masih dipendamnya. Ditunggunya sang ayah selesai menyelesaikan jahitannya. Hari itu memang sedang banyak orderan jahitan, jadi ayahnya cukup sibuk untuk mengejar target waktu yang dijanjikan. Namun sebanyak-banyaknya orderan tetap saja masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Adiknya ada tiga , si bungsu baru berumur dua tahun dan dalam masa pertumbuhan harus diberikan nutrisi yang baik, sedangkan harga susu tak semurah harga kopi pahit yang biasa diminum ayahnya. Adiknya yang kedua saat ini juga baru masuk SMP sedangkan adiknya yang ketiga sudah minta untuk di masukan ke sekolah dasar. Saking inginnya sekolah, adiknya yang ketiga selalu membawa buku tulis dan pensil yang badan pensilnya telah tergerus lebih dari setengahnya.

Akhirnya ayahnya rehat sejenak, diseruputnya kopi tadi pagi yang sore ini telah hilang suasana hangatnya. Dinikmati lekat-lekat setiap tegukannya, sesekali berhenti untuk menghirup nafas panjang dan menghembuskannya kembali. Saat ayahnya bangkit dari tempat duduknya dan berbalik. Disitu telah berdiri Ardi yang memang telah menunggu ayahnya beristirahat.

“Adik-adik sedang apa?” Tanya ayahnya.

“Biasa Yah, mereka semua sedang nonton tv.” Ardi menjawab.

“Ooh, bagus lah kalau mereka pada anteng-anteng. Oh iya Di, orderan jahit ayah baru selesai minggu depan. Jadi ayah

juga baru dapet uangnya minggu depan. Kamu sabar dulu ya untuk beli buku-buku sekolahmu.” Ayahnya menjelaskan keadaannya sambil tersenyum.

“Ia Yah. Ayah sudah menyampaikannya kemarin. Ardi paham yah. Malah Ardi ingin menyampaikan sesuatu sama ayah. Yang mungkin dengan ini Ardi bisa meringankan beban ayah dan membesarkan adik-adik yang masih kecil. Mereka saat ini sedang butuh banyak dana buat pendidikan.” Ardi menimpali

“Maksudmu apa Di? Ayah nggak ngerti maksud perkataanmu. Kalau memang ada yang perlu disampaikan. Sampaikanlah. Biar ayah dengarkan.” Ayahnya bingung, sambil berbalik melihat meja. Kemudian mengambil gelas kopi dan menyeruput sisa kopinya.

Ardi menjadi ragu untuk melanjutkan, ia takut apa yang ia sampaikan nanti akan melukai perasaan ayahnya. “Ehhhm… ” Tapi karena hal ini telah ia pikirkan matang-matang bahkan ia pikirkan semenjak ia lulus dari SMP kemarin dan diterima di SMA. Dan ia telah menimbang baik buruknya keputusan yang akan disampaikannya ke hadapan ayahnya. Maka ia beranikan untuk mengatakannya, “Begini yah, keputusan ini telah Ardi pikirkan jauh-jauh hari. Melihat keadaan adik-adik saat ini. Nomor dua saat ini baru masuk SMP, tentu biaya SPP bulanan SMP lebih mahal daripada saat disekolah dasar. Dan dia juga butuh buku-buku baru yah, sama seperti Ardi. Si nomor tiga sekarang juga sudah saatnya masuk sekolah dasar. Sekarang dia kemana-mana selalu membawa buku dan pensil. Maka tahun depan si nomor tiga juga akan masuk sekolah dasar. Sedangkan si bungsu, kebutuhan nutrisi dalam masa pertumbuhannya jadi hal yang penting. Stok susu dan makanan penunjang lainnya tak boleh kurang sedikitpun. Ditambah lagi semenjak kepergian Ibu dua tahun yang lalu tentu semakin menambah beban ayah dalam mengurusi kami semua.” Ardi menjelaskan panjang lebar.

Sang ayah semakin bingung dibuatnya dengan pernyataan si sulung, “Ya. Ayah tau itu. Ayah sangat mengerti dengan apa yang kamu bicarakan. Dan sekarang katakan, apa yang sebenarnya kamu maksud? Jangan buat ayah tambah bingung.” Ayah meneguk kopinya lagi. Namun kopinya sudah habis. Terpaksa ia sedikit mencicipi ampas kopi yang terasa pahit dan kasar itu.

Ardi semakin sadar jika ia semakin mengulur-ulur waktu tentu akan membuat ayahnya kesal dan akhirnya tak tersampaikan maksudnya. Akhirnya ia memutuskan untuk berbicara langsung ke inti permasalahannya, “Bagaimana jika Ardi keluar dari sekolah yah? Ardi bisa bekerja kecil-kecilan berjualan apa saja. Atau bisa membantu ayah mengantarkan jahitan para pelanggan. Tentu ini bis…”

“Dapat pikiran dari mana?  Dapat pikiran kerdil darimana kamu ini, hah?!! ” Ayahnya memotong pembicaraannya. Ia hampir naik pitam mendengar pernyataan anak sulungnya itu. Tapi segera diredanya, ia berpikir mungkin penyebab apa yang di katakan oleh anak sulungnya itu juga berasal dari keadaan dirinya juga.

Ayah coba bersikap bijak dan coba memahami jalan pikiran anaknya yang beranjak remaja ini. Ya, ia juga sadar. Selama membesarkan keempat anaknya ia belum bisa memberikan kecukupan yang memang bisa dibilang cukup, ayah baru bisa memberi kecukupan yang dicukup-cukupkan. Jadi wajar saja jika anaknya berpikiran seperti itu.

“Sini Di, ayah mau tunjukan sesuatu” Ayahnya mengajak Ardi masuk ke dalam rumah. Dibukanya laci dilemari yang biasanya hanya dibuka jika membutuhkan arsip-arsip penting semisal ijazah, kartu keluarga, dan lain-lain. Di ambilnya kotak yang belum pernah dilihat Ardi sedari ia kecil. Kotak tersebut terlihat sangat antik dan menunjukan sesuatu yang sakral. Dibukanya kotak itu oleh ayah. Dan Ardi melihat   seuntai tasbih dari kayu yang usang. Dan selembar foto yang memperlihatkan sekelompok pemuda. Dia tidak mengenal sosok lainnya selain sosok kakeknya di foto tersebut.

“Kau harus tahu latar belakang kakekmu Di” Kata ayah sambil memberikan secarik kertas foto itu pada Ardi.

“Memangnya kenapa dengan kakek yah?” Semenjak dahulu Ardi hanya tahu bahwa kakeknya hanyalah seorang petani dari Indramayu. Hanya itu yang ia tahu.

“Berapa nilai pelajaran Sejarah UAS-mu waktu SMP kemarin Di?”

“Cukup bagus yah. Dapat 82..”

“Kalau begitu kamu tentu tahu tentang pendudukan Jepang di akhir-akhir tahun 1945.”

“Kalau seingat Ardi, di tahun-tahun menjelang tahun 45’ banyak pemberontakan oleh rakyat terhadap pendudukan Jepang yah. Rakyat mulai berani dikarenakan serdadu Jepang sudah bertindak dengan sewenang-wenang.” Ardi mengingat-ingatnya sambil terus memandangi foto tersebut.

Ayahnya menghela nafas, kemudian melanjutkan “Ya, dan salah satunya terjadi di Indramayu. Di kampung kakekmu itu. Saat itu tentara Jepang sudah sangat semena-mena memperlakukan rakyat pribumi. Dirampasnya hasil sawah dan ladang rakyat pada saat itu. Dipekerjakannya rakyat sebagai Romusha. Tanpa gaji dan tanpa ampun.”

Ardi mendengarkan dengan seksama.

“Dan klimaksnya terjadi pada bulan April 1944. Para pemuda, petani dan warga disana melakukan pemberontakan terhadap Jepang. Walau pada akhirnya berhasil diredam Jepang karena kekuatan yang tidak imbang. Namun hal itu sudah cukup membuat tentara Jepang gentar. Dan asal kau tahu, kakekmu termasuk salah satu diantara pemuda yang melakukan pemberontakan itu. Dan ia gugur.”

Ardi tertegun, ayah sama sekali belum pernah bercerita tentang kakek sejauh ini. Ternyata kakek seorang pejuang. Bisik Ardi dalam hati.

“Nenekmu juga pernah bilang ke ayah, bahwa kakek orang yang rendah hati dan hidup sederhana. Ia juga taat menjalankan perintah agama. Keputusannya untuk turut melakukan pemberontakan terhadap Jepang pun juga bukan tanpa dasar. Keputusannya terilhami dari hadist Nabi SAW yang berbunyi, ‘diriwayatkan dari Abdullah bin Amr ra. : aku pernah mendengar Nabi Muhammad Saw bersabda, “orang yang mati karena mempertahankan harta miliknya adalah syahid.’”

Ayah melirik ke foto yang sedang dipegang Ardi, kemudian melanjutkan, “Jepang telah merampas apa yang kakek dan nenek punya. Jepang telah merampas hasil bumi Indonesia tercinta kita ini Di. Maka mempertahankannya sampai titik darah penghabisan adalah suatu keharusan. Bagi kakek, lebih baik mati di tangan penjajah daripada hidup selamanya jadi bangsa budak.”

Ardi tersadar. Bahwa di dalam dirinya mengalir darah pejuang. Darah yang tak akan tunduk kepada kezaliman dan kepengecutan. Dan apa yang disampaikan kepada ayahnya untuk berhenti sekolah adalah suatu bentuk kepengecutan.

“Mati dalam mempertahankan harta itu syahid Nak.” Ayahnya mengulang inti hadist tersebut.

“Iya yah, Ardi mengerti…” Jawab Ardi semakin merunduk.

“Dan kau tahu apa harta yang paling berharga itu? Ia lebih berharga daripada padi dan hasil ladang yang dirampas Jepang. Harta yang paling berharga itu adalah ilmu yang bermanfaat. Mempertahankannya adalah sebuah kewajiban. Dan kau mau berhenti sekolah hanya karena keadaan ayah pas-pasan? Lalu apa kata kakekmu nanti di akhirat. Walau ayah hanya seorang penjahit pakaian kecil-kecilan. Tapi ayah yakin masih bisa menyekolahkanmu dan adik-adikmu. Walau dalam keadaan sempit. Kumohon nak, bersabarlah. Semoga Allah menjawab doa-doa ayah untuk mencukupkan rizki. Pertahankan hartamu itu nak.. pertahankan..”

“Maafkan Ardi yaaaah…” Ardi menangis dan memeluk sesosok pria yang disampingnya itu. Foto kakeknya bersama sekumpulan pemuda itu untuk sementara tidak diperhatikan. Perlahan-lahan jatuh dari tangan Ardi menuju lantai…

*****

Keesokan harinya, Ardi merasa ada semangat yang membuncah di dalam dadanya. Dia merasakan ruh kekuatan baru yang dimasukan ke dalam tubuhnya. Ia berjanji untuk tidak mengalah pada keadaan. Karena dirinya bisa ada di dunia ini adalah hasil dari akumulasi mimpi-mimpi para pendahulu. Yang menitipkan mimpi-mimpi tersebut kepada dirinya. Foto kakeknya itu diberikannya oleh ayahnya untuk dijaga. Dan Ardi sekarang tahu, jika sedang kalah dan terjatuh ia tinggal mampir berkunjung ke rumah api. Di rumah api ada ruh yang membakar semangatnya. Rumah api itu adalah potret kehidupan pejuang sederhana yang memperjuangkan harga diri dan kehormatan. Rumah api itu ada di dalam hati kakeknya.

Advertisements

Read Full Post »

tipe idealis spontan

Ini merupakan jawaban dari kuis Facebook yang saya ikuti. Lupa nama kuisnya. Cuma kalau kamu juga coba ikutan. hasilnya banyak yang pas lho…

Idealis Spontan

Tipe Idealis Spontan adalah orang-orang kreatif, periang, dan berpikiran terbuka. Mereka penuh humor dan menularkan semangat menikmati hidup. Antusiasme dan semangat mereka yang menyala-nyala menginspirasi orang lain dan menghanyutkan mereka. Mereka menikmati kebersamaan dengan orang lain dan sering memiliki intuisi yang jitu mengenai motivasi dan potensi orang lain. Tipe Idealis Spontan adalah pakar komunikasi dan penghibur berbakat yang sangat menyenangkan. Keriaan dan keragaman dijamin saat ada mereka. Namun demikian, kadang-kadang mereka terlalu impulsif saat berhubungan dengan orang lain dan dapat menyakiti orang tanpa bermaksud demikian, karena sifat mereka yang blak-blakan dan terkadang kritis.

Tipe kepribadian ini adalah pengamat yang tajam dan awas; mereka tidak akan ketinggalan satu kejadian pun di sekitar mereka. Dalam kasus ekstrem, mereka cenderung terlalu sensitif serta waspada berlebihan dan dalam hati siap melompat. Kehidupan bagi mereka adalah drama yang menggairahkan penuh keragaman emosi. Namun demikian, mereka cepat menjadi bosan ketika hal-hal terjadi berulang dan dibutuhkan terlalu banyak detail serta ketelitian. Kreativitas, daya khayal, dan orisinalitas mereka paling mudah dikenali ketika mengembangkan proyek atau ide baru – kemudian mereka menyerahkan seluruh pelaksanaan rincinya kepada orang lain. Secara singkat, tipe Idealis Spontan sangat bangga akan kemandiriannya, baik di dalam diri maupun yang tampak dari luar, dan tidak suka menerima peran bawahan. Oleh karena itu mereka memiliki masalah dengan hirarki dan otoritas.

Jika Anda memiliki tipe Idealis Spontan sebagai teman, Anda tidak akan pernah bosan; bersama mereka, Anda dapat menikmati kehidupan sebaik-baiknya dan merayakannya dengan pesta-pesta terbaik. Di saat bersamaan, mereka hangat, peka, penuh perhatian, dan selalu bersedia membantu. Jika seorang Idealis Spontan baru jatuh cinta, langit dipenuhi biola dan pasangan mereka akan dihujani perhatian dan kasih sayang. Tipe ini kemudian berlimpah dengan pesona, kelembutan, dan imajinasi. Namun, sayangnya, begitu kebaruan itu luntur dengan cepat akan membosankan bagi mereka. Kehidupan berpasangan sehari-hari yang membosankan tidak cocok untuk mereka sehingga banyak tipe Idealis Spontan keluar-masuk percintaan sesaat. Namun demikian, jika pasangannya bisa membuat rasa ingin tahu mereka tetap hidup dan tidak membiarkan rutinitas dan keakraban melanda, tipe Idealis Spontan dalam menjadi pasangan yang menginspirasi dan penuh kasih sayang.

Sifat-sifat yang menggambarkan tipe ini: spontan, antusias, idealis, ekstrovert, teoritis, emosional, santai, ramah, optimis, memesona, suka membantu, mandiri, individualis, kreatif, dinamis, periang, humoris, penuh semangat hidup, imajinatif, mudah berubah, mudah menyesuaikan diri, setia, peka, menginspirasi, mudah bergaul, komunikatif, sulit ditebak, ingin tahu, terbuka, mudah tersinggung.

Read Full Post »

Assalamu’alaikum.. apa kabar anda hari ini? Saya doakan semoga dalam keadaan sehat dan semangat selalu J. Yah, malem ini saya jadi terinspirasi untuk membuat satu kategori baru dalam wordpress ini. Ide tersebut sebenernya datang sudah cukup lama, ketika sepanjang perjalanan hidup ini menelusuri sudah berapa banyak buku, film, musik, tempat, atau kejadian yang saya alami. Rasa-rasanya sangat disayangkan jika hal-hal yang baik dan berhikmah itu tidak di rekam dengan baik. Tidak direkomendasikan ke khalayak. Tidak dikomentari sehingga hilang begitu saja. Padahal banyak dari buku, film, atau music itu sangat menginspirasi saya, memperluas paradigm berpikir saya. Sekaligus tag ini sebagai wadah mengungkapkan gagasan-gagasan. Jadi mulai sekarang kategori baru ini saya namakan: rekomendafif (namanya norak ya?hehe.. biarin deh, biar gampang diinget)

Langsung saja tulisan pertama dari rekomendafif ini jatuh pada sebuah buku yang bernama “Deception Point (Titik muslihat final)” karya Dan Brown. Hampir sebulan saya menyelesaikan novel yang bertajuk fiksi ilmiah ini (dikarenakan membacanya berpararel dengan buku yang lain juga). Dan hari ini sampai juga berakhir pada halaman epilog. Novel setebal 680-an halaman ini benar-benar mengajak anda bertualang.

Deception Point, novel ini mengisahkan tentang sebuah penipuan besar-besaran terhadap ilmu pengetahuan. Disini diangkat tiga institusi besar Amerika yang ikut andil dalam peran, yaitu Parlemen Amerika, NASA, dan NRO. Bermula dari ditemukannya meteorit besar di kutub utara dan di dalamnya ada fosil yang diklaim NASA sebagai fosil dari makhluk luar angkasa. Dan cerita tentang pengungkapan meteroit ini terus dikupas sampai halaman akhir novel.

Di novel ini juga diangkat sebuah drama tentang politik, tentang kekuasaan. Bagaimana segala kejadian yang ada bisa dijadikan bahan kampanye atau sekedar menjatuhkan citra lawan. Dikisahkan bahwa konspirasi meteroit ini tidak lepas dari peran Presiden: Zack Henrey, rival politiknya: Senator Sexton, dan Intelejen Amerika.

Dan Brown begitu jenius dalam memainkan alur cerita, sehingga kejadian satu dengan yang lainnya berjalin kelindan dan saling berhubungan. Dan juga seperti novel-novelnya yang lain. Dan Brown menyuguhkan setting tempat yang real dan teknologi-teknologi yang dikemukakan novel ini juga benar adanya. Sehingga benar kata Dan Brown dalam bukunya ini, “Terkadang kenyataan lebih mencengangkan daripada fiksi.” Anda juga akan dibuat termanggut-manggut ketika di hadapkan dengan dialog ilmiah yang ada di novel tersebut, yang akan membuat anda tersentak dan bergumam dalam hati, “Ooooo ternyata begitu…”

Dengan membaca novel ini terbukalah gambaran anda tentang teknologi di dunia Intelejen Amerika. Membaca novel ini juga seperti menonton Film, sarat dengan suguhan action yang dilugaskan dengan kata-kata oleh penulis piawai ini: Dan Brown.

Mungkin itu aja penjabaran saya setelah membaca karya ini, bagaimana? Anda tertarik? Kalau saya jelas tertarik… Novel selanjutnya yang saya planingkan untuk dibaca Angel & Demons (Malaikat & Iblis), terus The Lost Symbol, sama Benteng Digital… Semuanya karya Dan Brown memang oke..hhe.. Selamat membaca 😀


Pijar Kalam

Jkt, 14 Des 10

Read Full Post »

Sekedar pengamatan kecil

Sekedar pengamatan saya sehari-hari dari mushola deket rumah saya. Tempat ini sangat memorable dalam ingatan saya. Waktu kecil sering jadi basis perkumpulan prajurit sebelum perang petasan. Yang harusnya dateng ke mushola itu buat Teraweh pas bulan Puasa, eeh ini malah jadi tempat rapat sementara mengatur strategi perang, sekaligus ngecek amunisi. Berapa jumlah petasan korek, artileri udara a.k.a Janwe, bom asap untuk fungsi spionase, serta petasan dengan daya ledak terkuat a.k.a petasan Teko (mungkin nama petasan di setiap daerah berbeda-beda, jadi tolong sesuaikan sendiri).

Yaa, setelah 21 tahun tinggal di lingkungan ini. Mushola sederhana itu yang telah mengalami pemugaran dua kali sepengetahuan saya. Tempat untuk sholat berjamaah yang paling dekat dengan rumah. Dan sekarang, sudah dua minggu saya di rumah lagi, yang sebelumnya tiga tahun kemarin jarang bisa dua minggu di rumah. Senang rasanya bisa mencicipi berjamaah disana lagi.

Dari komposisi jamaah yang hadir, saya bisa mengambil kesimpulan, “jamaah yang hadir didominasi oleh jamaah yang dekat dengan angka natalitas dan jamaah yang mendekati angka mortalitas”. Sepertinya telah terjadi missing link generasi, yang membuat kita bertanya-tanya, PEMUDANYA PADA KEMANA???

 

Read Full Post »

“Aaah, mana mungkin bisa.. Kemampuan lo kan pas-pasan”

Dari kita semua mungkin sering mendengar ungkapan ini dari salah satu orang yang sangat kita kenal. Dari orang yang seharusnya berada di samping kita saat merasa down dan desperate. Yang kita harapkan dapat membesarkan hati kita, mampu menyuguhkan nasihat-nasihat yang melepaskan dahaga disaat kita haus akan air harapan.

Ternyata kenyataan berkata lain, mencurahkan segala cerita kelemahan dan keputus-asaan kepada orang yang salah malah akan merobohkan seluruh dinding harapan dan ikut mengubur cita-cita kita di dalamnya. Karena pandangan manusia terkadang begitu subjektif dan tidak adil dalam menilai. Tidak adil dalam menilai diri kita yang telah berjuang keras, yang telah memeras segala potensi akal, ruh dan jasad. Dan pada akhirnya hanya akan dipandang sebelah mata dan komentar ringan, “Aaah, mana mungkin bisa.. Kemampuan lo kan pas-pasan.”

Pada kondisi seperti itu mungkin Allah ingin menegur kita, bahwa ada Beliau yang dengan sangat obyektif memandang kemampuan diri ini, yang selama ini kita tinggalkan dengan lebih senang memilih menceritakan keluh kesah kepada manusia. Dia ingin mengingatkan kita, bahwa ada diri-Nya yang mau mendengarkan segala keluh kesah, segala curahan isi hati, segala doa dan pengharapan. Dengan kasih sayangnya Dia ingin menyapa kita,

“Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS Az Zumar 53)”

Dan pada saat itu juga Dia ingin membesarkan hati kita, ingin kita bisa menemukan kembali mata air harapan,

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS Ali Imran:110)”

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. (QS At Tin:4-6)”

Beliau pun ingin memastikan kita untuk memastikan untuk terus mengasah dan melatih kemampuan diri dalam menggapai cita-cita dalam bingkai keridhoan-Nya,

“Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan. (QS Ar Rad:11)”

Sungguh indah ekspetasi Allah terhadap manusia. Begitu adil Beliau dalam memandang hamba-hamban-Nya,

“Dan orang-orang mukmin dan beramal soleh serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang haq dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka. (QS Muhammad:2)”

Ya, kita disuguhkan oleh ekspetasi subyektif dari manusia terhadap diri kita agar kita mau kembali beralih kepada Beliau, mengembalikan segala permasalahan kepada-Nya semata. Karena hanya Dia-lah yang paling adil dalam menilai manusia, yang menggenggam isi alam semesta, tiada yang luput dari penjagaan-Nya. Teruskan karyamu kawan, teruskan segala asa yang membuatmu menjadi lebih hidup.

“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS At Taubah:105)

Pijar Kalam
Jkt, 1 Muharam 1432 H

Read Full Post »

jujur-jujuran aja deh.. saya baru belajar cara embed foto di wordpress.. dan ternyata, eng ing eng!!! berhasil 😀 yaah, beginilah adanya.. saya masih newbie.. kalau ada yang punya ilmu lebih.. harap dibagi yaa..

"suka senyum"

Read Full Post »