Feeds:
Posts
Comments

Archive for January, 2011

Merefleksikan Syukur

Setiap pagi, saat tersadar bahwa nafas kita masih terasa hangat. Tanda bahwa masih diberi kehidupan. Terbangun dengan perasaan biasa saja, malah lebih dekat dikatakan hambar. Terus terjadi begitu setiap harinya. Padahal taukah kawan, dengan diberinya kehidupan adalah anugerah terbesar dalam hidup itu sendiri. Dengan kehidupan kita mengerti bahwa kita masih punya kesempatan. Kita pun selalu merasakan, betapa berharganya detik-detik terakhir dalam ujian itu. Pada titik kulminasi, kita kerahkan seluruh potensi untuk fokus dalam menjawab soal-soal. Atau saat-saat terakhir menjelang perpisahan dengan kerabat maupun kawan seperjuangan. Kita merayakan saat-saat terakhir itu dengan suka cita. Perasaan yang mengharu biru karena sebentar lagi kita paham, kita paham sebentar lagi kita akan berpisah dan tak akan bertemu lagi dalam jangka waktu yang lama dengan orang tersebut.

Maka begitulah seharusnya kita menyikapi kehidupan. Hakikatnya, kehidupan ini begitu singkat. Ia seperti halusinasi, saat mengingat-ingat kejadian masa lalu rasanya seperti ditumpahkan mimpi-mimpi ke setiap sudut memori. Saya yang sudah berumur sekitar 21 tahun pun merasakan. “Rasanya seperti baru kemarin” begitu biasanya kita berujar. Maka bersiaplah, karena masa depan akan datang dengan cepat pula, “datang secepat besok atau lusa.”

Masih di pagi yang sama, mari kita mencoba untuk menghitung segala nikmat yang ada. Bukan bermaksud untuk mencoba mengkalkulasikan nikmat darinya menjadi jabaran angka-angka. Karena itu tentu saja merupakan hal yang mustahil. Kita menghitungnya agar semakin sadar bahwa kasih sayang-Nya melimpah ruah. Sarapan telah tersedia di meja, lalu kita makan dengan lahapnya. Tanpa kita sadari melahap ratusan butir nasi yang berasal entah darimana.  Bayangkan jika ternyata nasi itu berasal dari petani yang bahkan tak pernah menuai padi yang dia tanam. Perutnya hanya dicukupkan dengan gaplek dan nasi akik. Kurang ajarnya kita, terkadang tidak habis memakannya.

Setelah sarapan, lalu beranjak ke televisi, koran atau internet yang tak pernah lepas dari genggaman. Kita menikmati informasi, kita meluaskan wawasan kita sendiri, kita mencerdaskan diri kita sendiri. Setelah itu sadarkah bahwa digital divide yang ada di Indonesia sedemikian timpang? Kita yang memiliki kesempatan untuk mendapatkan informasi pun ternyata kurang bersyukur, berlama-lama dimanjakan infotainment tak berbobot. Pada akhirnya ada atau tidak ada informasi sama saja, kita sama-sama kosong.

Sekarang periksa dompet anda, hitung seluruh uang yang ada di dompet. Lebihkah dari sepuluh ribu rupiah? Jika ya, berarti anda tidak termasuk kategori orang miskin versi negeri ini. Yang dinyatakan orang miskin adalah orang yang berpenghasilan kurang dari sepuluh ribu. Ya, sebuah standar tidak relevan dengan daya beli masyarakat secara umum dan sangat bermuatan politis.

Perikasa lagi dompet, ooh ternyata ada sebuah KTM (Kartu Tanda Mahasiswa). Ternyata anda adalah sepersekian persen dari orang Indonesia yang beruntung bisa mengenyam bangku pendidikan tinggi. Duduk bersama orang-orang yang mengedepankan intelektualitas dan moralitas. Bersama menjadi obat pelipur lara bagi negeri yang sakit ini.

Atas segala nikmat itu, mari kita refleksikan. Kesempatan datang kepada kita tanpa diminta. Dan atas segala kelapangan yang diberikan-Nya itu bukan tanpa maksud. Seperti halnya pohon beringin, Allah melebihkan rezeki beringin dibandingkan pohon lainnya. Ia diberikan akar yang lebih kokoh menopang, jari-jari akar yang lebih lincah mencari unsur hara bumi. Batang yang kuat dan megah. Segala kemudahan yang didapat beringin ternyata untuk memberikan rahmat kepada sekitarnya. Memberikan tempat berlindung kepada hewan-hewan pengerat dan mamalia., tempat untuk berteduh dari sengatan matahari, juga sebagai tempat persediaan makanan dan cadangan air.

Beringin mengajarkan kita, tidak bisa dikatakan sukses orang yang kesuksesannya untuk dirinya sendiri. Padahal disekitarnya banyak tetumbuhan dan bebungaan yang butuh pertolongan dari Sang Beringin. Itulah maksud Tuhan menjadikanmu. Memudahkan dirimu dengan segala anugerah. Nikmat iman, nikmat sehat, nikmat harta yang halal, nikmat persaudaraan, nikmat kecerdasan dan lain-lain yang tak bisa dihitung. Atas nikmat sehat itu, Allah hendak menyuruh kita untuk menolong yang sedang sakit. Atas nikmat ilmu dan kefahaman itu, Allah hendak menyuruh kita untuk berbagi cahaya kepada seluruh manusia yang membutuhkan jalan terang. Atas nikmat harta itu, Allah pun berfirman, “”Dan pada harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.(Adz-Dzariyat : 19)”

Ternyata ada hak orang lain atas setiap jengkal harta kita, ada hak orang lain atas setiap langkah sehat kita. Ada hak orang lain atas setiap pengetahuan dan kefahaman kita. Subhanallah, sadarkah kawan.  Allah hendak memaksa kita menjadi tangan yang diatas! Bersyukurlah atas itu…

Pijar Kalam

18 Januari 2011

Advertisements

Read Full Post »

berkawan dengan Ide

Biasanya ide itu muncul seperti hantu (kata Dewa 19). Munculnya dimana saja dan kapan saja. Bisa muncul disaat paling sepi dalam renungan yang mendalam atau dalam hingar bingar kerumunan manusia. Disaat sebait senyum merekah, ide itu muncul laksana musim semi yang hangat. Saat-saat air mata menjadi teman yang akrab, ide menampakan diri sebagai batu nisan, dalam diamnya mengutarakan hikmah mendalam.

Karena seperti hantu, ide datang dan pergi tanpa permisi. Ia seperti musim kemarau yang menemukan mendung, seisi bumi menyambutnya dengan bahagia, namun tiba-tiba angin meniupnya hingga jauh. Akhirnya, yang tadinya terasa begitu dekat dan mudah untuk digenggam, lenyap senyap. Padahal ide itu biasanya hanya terdiri dari beberapa suku kata yang menggambarkan gagasan. Beberapa suku kata pendek yang secara logika kita dapat mengingatnya dengan baik. Mungkin karena sifatnya yang unik dan tiba-tiba. Kita harus cekatan untuk menangkap dan mengikatnya.

Ketika gagasan utama telah kita dapatkan, cobalah hal ini:

– Buat file baru pada Microsoft Word atau sejenisnya, simpan file kosong tersebut, lalu rename dengan judul yang menggambarkan ide/gagasan utama tersebut.

Biarkan dulu sementara waktu file kosong tersebut jika memang belum saatnya.

Dan….., abrakadabra! File kosong itu lambat laun akan terisi dengan kata-kata menyusun dirinya jadi kalimat. Kalimat memuntir-muntir dirinya untuk menjelma jadi paragraf. Paragraf pun terus bergandengan tangan. Selamat, anda telah membangun gagasan anda yang utuh.

 

Pijar Kalam

 

Read Full Post »

rasa-rasanya kurang bijak…

memaki dan menyalahi orang yang menginjak kaki kita…

Sehingga kita terhenti dan terjatuh…

coba kalau kaki ini lebih kuat, pasti tak kan terjatuh


rasa-rasanya juga kurang bijak…

berbangga-bangga diri terhadap kaki yang kuat…

sehingga tak pernah lagi terjatuh, terus melaju…

memangnya siapa yang memberimu kaki, hah?


Pijar Kalam

“Sebuah renungan saat diatas, saat dibawah”

03 Januari 2010

Read Full Post »