Feeds:
Posts
Comments

Archive for February, 2011

Twitter Revolution

Assalamu’alaikum..

Selamat pagi semuanya, semoga semua dalam kabar baik. Kali ini gue ingin menuliskan opini pribadi gue tentang Twitter. Ya, mungkin anda semua tentu sudah mengenal dengan salah satu web social network yang satu ini. Atau jika memang belum memiliki akunnya, setidaknya tentu anda sudah pernah mendengarnya. Jika belum pernah mendengarnya, tentu saja anda pernah mendengarnya dooong, masa belum pernah sih? *maksa*.

Awal-awal saat sedang katrok-katroknya, saat belum punya akun Twitter sedangkan teman-teman yang lain sudah bergosip sana-sini, “eeh lo tau ngga sih? #SM*SHLovers jadi Trending Topic lho. ”, “eeh kok mentions gue ngga dibales sih..”, “lo follow @marioteguhQuotes deh. Tweet-tweets motivasinya keren-keren” dan “Twitter itu apaan sih? Enak ngga? Gue mau dong cobain satu..“ Nah yang terakhir itu gue pas masih polos dan belum mainan Twitter.

Akhirnya karena ngga ingin tergeser dari dunia pergaulan yang semakin keras aja #halah, gue pun memutuskan untuk memberanikan diri buat akun di Twitter. Yang katanya sih “taste”nya beda dari model-model Social Networking yang lain. Setelah kurang dari setengah jam, jadilah akun tersebut. Awal-awal akun gue, gue namain @puisidangitar. Terus temen-temen banyak yang protes. Katanya namanya misterius. Dan waktu itu juga gue pasang profile picturenya cuma keliatan badan sampe leher doang. Alhasil, orang-orang awal yang gue follow enggan mem-follback gue. Sedih waktu itu, gue pikir gue ngga diterima buat gabung di dunia per-Twitteran..hiks….

Setelah gue klarifikasi bahwa pemilik akun @puisidangitar adalah punya gue, akhirnya mereka-mereka berkenan mem-follback gue *sumringah*. Dan biar ngga terjadi kesalahpahaman yang berkepanjangan akhirnya akunnya gue ganti pake nama @apip_pip biar gampang diinget. Terus juga profile picturenya gue ganti pake photo yang paling fotogenik namun ngga menipu, tetep sama dengan muka aselinya di dunia nyata *sama-sama nipu* haha.

Mungkin kesan pertama gue pas mainan Twitter ini benak gue berkata, “nih web simple amat sih, Cuma bisa pasang poto satu biji. Terus tulisan di text field dibatesin sampe 140 karakter doang. Trus Cuma ada Timeline yang isinya ngalir terus. Ini mah masih canggihan Facebook kemana-mana.” Namun hal itu ngga mengurungkan niat gue untuk berhenti dalam bermain Twitter. Gue follow tokoh-tokoh idola gue, pejabat-pejabat, mentri-mentri, portal berita, sampe akun-akun ngga jelas tapi anehnya bisa eksis kaya si @poconggg.

Dan setelah sekian lama tergabung akhirnya gue bisa menarik kesimpulan mengapa Twitter bisa berhasil membawa namanya terkenal di dunia. Bahwa di era Teknologi Informasi yang super duper faster ini. Kita sadar, begitu mudahnya untuk mendapatkan informasi yang kita inginkan. Segala informasi itu berada di samudera internet yang hampir tanpa batas. Padahal kata dosen “Dasar-dasar Arsitektur Komputer” gue perkembangan dunia digital itu belum sampe berumur satu abad. Dosen gue bilang pas perang dunia ke-1 perang belum pake yang namanya perangkat computer. Pas perang dunia kedua computer pun udah dipake. Terus juga transistor yang sebagai perangkat utama dari chip computer dulu segede-gede jempol dan jumlahnya baru ratusan ribu, sekarang transistor dalam chip processor ukurannya udah nano dan jumlahnya udah berjuta-juta. Amazing banget kan?

Maka dengan keterlimpahan informasi yang ada pada akhirnya kita bukan lagi berfokus pada PENCARIAN INFORMASInya. Sekarang kita berfokus kepada PENYARINGAN INFORMASI tersebut. Kebayang kan, apa jadinya jika waktu kita yang dari jaman monyet gigit batu sampe manusia gigit computer sama-sama 24 jam itu digunakan untuk membaca dan menyerap seluruh informasi yang ada di internet. Tentu saja itu menyita waktu, maka seharusnya yang kita lakukan sekarang adalah :

–      Hanya menyaring informasi yang kita butuhkan saja, mungkin itu yang berhubungan dengan profesi anda, wawasan umum yang berkembang luas, informasi-informasi yang mendukung bisnis,maupun hobi anda.

–      Mencari informasi-informasi yang lugas, singkat, efisien dan efektif dalam cara penyampaiannya. Sehingga kita mendapatkan point-point informasi tanpa menyita waktu berlebihan.

Dan ternyata Twitter didesain untuk itu. Dengan penyediaan text field yang hanya 140 karakter kita dipaksa untuk menyampaikan informasi seperlunya langsung ke intinya. Sehingga dengan itu informasi yang mengalir pada Timeline sifatnya up to date dan fokus. Sedangkan mengenai mekanisme followingnya kita diberikan kebebasan untuk memilih informasi-informasi yang benar-benar kita butuhkan. Mulai dari portal berita, info-info bisnis dan hobi, sampai wejangan dari tokoh-tokoh yang menjadi idola kita.

Selain itu penyedian media interaksi yang tunggal, yaitu Timeline (Direct Message juga) akan membuat interaksi yang ada dinamis dan relative lebih hidup. Mungkin hal yang paling canggih dari Twitter menurut gue adalah mekanisme Trending Topicnya, dimana Twitter bisa merangkum dan merating mana informasi-informasi yang lagi banyak diomongin sama orang-orang. Menurut  gue itu amazing banget!

Yaaa.. sekian tulisan dari gue.. semoga bermanfaat.. oh iyaa twitter gue bisa dilihat di @apip_pip. Bukan bermaksud promosi, cuma sekedar cuci gudang sama diskon #halah.. Selamat bercicit-cuitt 😀

 

Salam.

 

Advertisements

Read Full Post »

System Thinking

“Berpikirlah secara system, agar tidak terjebak dalam kompleksitas” ~dr. Iik Wilarso

Pesan itu disampaikan dari seorang dosen yang sedang mengisi kuliah malam. Dan mata kuliah yang sedang diajarkannya adalah mengenai “Prinsip-prinsip system informasi”. Sudah genap seminggu saya mencicipi kuliah ekstensi saya di Jakarta. Sudah begitu lama saya meninggalkan almamater D3 jauh di kota kembang disana. Banyak hal-hal yang saya duga di masa depan akan menjadi kenangan emas, yang jika ditengok kembali suatu saat nanti akan serta merta membuat jiwa ini mengharu-biru. Pada akhirnya pun episode-episode hidup pun harus terus berjalan, tidak bisa di pause apalagi di-replay. Maka babak baru bagi kehidupan di kota kelahiran saya ini pun baru dimulai.

Kalau tiga tahun lalu, hidup di kosant. Walau uang yang dikirimkan minim, tapi senang bisa merasakan seni hidup yang berbeda. Mungkin bisa dikatakan sebagai transformasi dari seseorang yang biasanya menggantungkan segala sesuatunya ke orang tua, selama 3 tahun lalu dituntut untuk mengatur segalanya sendiri. Terutama mengenai tanggung jawab membawa diri sendiri. Transformasi itu pun boleh saya katakana baru setengah transformasi. Saya belum benar-benar melepas seluruh tanggung jawab di pundak sendiri. Terutama yang berhubungan dengan masalah finansial.

Baiklah, cukup sudah curhat colonganya. Sekarang saatnya kita kembali ke topik. Mengenai kuliah pertama mengenai “Prinsip-prinsip system informasi” berkali-kali sang dosen mengulang-ulang perkataannya. Bahwa esensi dari pelajaran ini adalah “berpikir secara sistem” system thinking. Heeem, kata-kata itu terus terngiang di benak saya. Dan bapak dosen pun menambahkan, “berpikirlah secara system, agar terhindar dari kompleksitas. Sebagian besar masalah dan kerumitan itu terjadi karena pengembang tidak berpikir secara system.” Heeeem, mungkin ada benarnya juga bapak dosen ini.

Jika kita berpikir secara system berarti kita berpikir secara menyeluruh. Kita berpikir secara global dan melihat segala keterkaitan yang ada menjadi hubungan sebab-akibat. Mungkin hal kecil yang kita abaikan ternyata berdampak sistemik dan mengacau-balaukan keseluruhan system yang ingin kita bangun. Atau pun sebaliknya, hal-hal yang kita fokuskan ternyata tidak memberikan efek yang cukup signifikan bagi efektifitas system.

Dari pernyataan tersebut, saya jadi teringat terhadap buku yang pernah saya baca. Buku yang di tulis dari seorang trainer motivasi kenamaan, beliau adalah Reza M. Syarif. Seorang motivator yang pertama kali saya ikuti trainingnya dalam hidup saya, waktu itu dalam acara SMA. Dalam bukunya “Life Excelent”, beliau memaparkan ada tiga cara dalam proses berpikir, yaitu berpikir secara vertical, secara literal, dan secara longitudinal. Apa yang dimaksud dari ketiga cara berpikir tersebut? Mari kita bahas satu-persatu.

1. Berpikir secara vertical
Jika kita sedang berada di gedung perkantoran yang tinggi. Kemudian melihat jalan-jalan raya yang terlihat dibawahnya. Segala sesuatunya menjadi kecil bukan? Jika di jalan itu terjadi kemacetan kita dapat dengan mudah melihat baris-baris mobil dan melihat penyebab kemacetan tersebut. Maka berpikir secara vertical adalah berpikir dengan pendekatan spiritual. Kita mendekat kepada Dia yang Maha Tinggi. Dan kita akan melihat segala problem masalah menjadi kecil dan mudah.

2. Berpikir secara longitudinal
Berpikir dengan cara ini berarti kita berpikir dengan satuan waktu. Kita hidup di dunia ini pun terbagi menjadi tiga waktu, yaitu masa lalu, masa kini dan masa depan. Kita yang hidup di masa kini tentu akan melihat masa lalu sebagai pelajaran dan instropeksi. Sedangkan masa depan kita canangkan sebagai ruang perencanaan dan pembuktian cita-cita. Maka masa kini kita jadikan sebagai ruang pengekskusian.

3. Berpikir secara lateral
Dalam kehidupan ini banyak hal di kiri dan kanan yang kita lihat dan berinteraksi dengannya. Sebagai makhluk social tentu kita memiliki hasrat untuk saling menolong dan berbagi kasih sayang. Maka berpikir dengan cara lateral adalah berpikir dengan cara social, melebarkan sayap kekiri dan kekanan untuk saling memberi. Transformasikan kesuksesan individu kita menjadi kesuksesan public. Karena kita tidak hidup sendirian di dunia ini.

Semoga dengan cara berpikir yang lengkap tersebut kita dapat membuktikan kalimat yang diucapkan oleh dosen saya yang mengajar “Prinsip-prinsip system informasi”. Berpikirlah dengan cara system, maka kita akan terhindar dari kompleksitas. Mungkin yang saya jabarkan diatas lebih kearah berpikir untuk kehidupan yang sedang kita jalani. Sedangkan yang dimaksud oleh dosen saya tersebut adalah berpikir dalam konteks membangun system informasi berbasis komputer yang baik. Tapi bukankah dalam proses belajar itu terdapat proses comparison (membandingkan), connection (mengkaitkan), conversation (tanya-jawab), dan consequences (sebab-akibat)? Maka dalam hal ini adalah upaya pembelajaran saya untuk mengkait-kaitkan ilmu tersebut.. semoga bermanfaat..

Read Full Post »

Sarapan Pagi

segelas pagi telah seduh di pinggir meja

cahaya pun telah tanak di tungku-tungku masak

harum telah mengeram di langit-langit dapur

karena sekian lama menangkap asap yang sama

dimunculkan dari sumbu – sumbu hidup hambar

jelas tergambar di wajah kuali-kuali berjelaga

 

sepotong tempe adalah sendu yang diperam dengan ragi duka

tiada guna duka, rajang saja, sangrai dengan bara, lumat lalu telan!

sepetak tahu adalah peluh yang diperas oleh zaman yang culas

ditekan dan diinjak hingga lumpuh seluruh

sebotol kecap adalah penyamar manis bagi pahitnya nasi kelas dua

bisakah ia lumuri kepada hatinya yang terlanjur mengecap getir?

 

meja makan adalah altar bersunyi

dimana setiap yang ada diatasnya berbicara dengan bahasa kesyukuran

ini sepiring hikmah yang sekedarnya siap untuk disantap

tempe, tahu dan kecap adalah saudara yang sangat akur

mereka tak pernah bertengkar tentang siapa yang paling berjasa

tak butuh juru gizi untuk mengkasta-kastakan mereka

dahulu lahir dari ladang harapan yang sama

menghisap hara yang disemai petani dengan asmara

batang-batang tumbuh merubuh

seperti gugusan galaksi alam semesta

tempe, tahu, dan kecap dahulu adalah satu yang padu

 

persembahan bagi petani adalah hidangan yang akrab

mereka dengan segala daya upaya

berkolaborasi, berlomba-lomba mengisi massa otot petani

untuk terus berkarya menggurat tanah surga pertiwi ini

“dari tanah ini, rebut yang bisa engkau rebut paduka Tani”

tempe, tahu dan kecap berujar

“isi perut bumi telah mereka kuras, kau kebagian mengerik keraknya ”

tempe, tahu dan kecap berucap dengan nada sabar

 

bersahajanya engkau paduka Tani

meja makanmu adalah indah yang hidup

semoga tunas-tunas yang kau tanam

akarnya akan terus terhujam di ladang-ladang surga

 

Pijar Kalam

1 Februari 2011

Read Full Post »