Feeds:
Posts
Comments

Archive for May, 2011

Bacalah…

membaca itu mendengarkan lewat mata.

penulis adalah orator yang bebas memilih rima yang paling irama.

 

intonasi dibekukan oleh waktu.

lalu dalam diam ada kata.

sebab buku adalah mulut sejarah yg tak pernah kehabisan suara.

 

di suatu ketika yang lama.

ia bukan siapa-siapa.

lalu tulisannya dihari yang lain menunjuknya sebagai sebuah nama.

 

pada langit yang bertintakan hujan atau pada daratan yang memiliki pena pepohonan.

aku ingin membaca seluas semesta!

 

Jakarta, 29 Mei 2011

Pijar Kalam

 

Advertisements

Read Full Post »

OST of my life

Assalamu’alaikum…

Lama sekali rasanya saya nggak update tulisan di blog ini. Niatnya sih pengen bisa nembus 100.000 visitor, tapi kalau kelolanya angot-angotan kaya gini sih dapet 1000 visitor aja udah seneng. Btw terima kasih buat para pembaca yang kebetulan lewat , kejebak dari link promosi yang biasanya saya pajang di status FB atau twitter. Haha.. Semoga aja anda tidak merasa terjebak.

Di akhir minggu, di jeda yang tidak terlalu lama ini. Bisa bersua lagi dengan blog sederhana ini. Seminggu terakhir ditekan dengan UAS dan baru selesai siang hari tadi. Semoga hasilnya yang terbaik, walau saya rasa belum memberikan ikhtiar yang terbaik. Ditambah lagi dengan project baru web aplikasi buat sebuah perusahaan di Cibitung. Pada saat-saat sempit waktu seperti ini benar-benar menguras waktu dan tenaga. Komunikasi menjadi tidak efektif, rasanya yang ada hanya bergerak dan bergerak. Hari-hari berkelebat dengan sangat kaku dan monoton.

 Tapi mungkin disinilah sisi yang harus saya syukuri. Hakikat nikmat sehat baru kita dapatkan setelah kita terkapar di tempat tidur, hakikat nikmat waktu luang pun baru kita dapatkan ketika hari-hari kita dijejali dengan tugas-tugas yang rasanya tak kunjung usai. Sehingga sadarlah kita terhadap segala yang ada di depan mata, tak boleh ada yang sia-sia. Kehidupan ini pun diciptakan juga bukan untuk hal yang sia-sia, bukan untuk hal yang remeh-temeh. Ada hal yang super duper besar yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapan-Nya kelak.

Ok, di kesempatan kali ini saya ingin bercerita tentang beberapa penggalan nada yang membekas dalam memori ini. Biasanya interpretasi orang terhadap music berbeda-beda.  Karena music itu sangat berpengaruh terhadap latar belakang orang, kejadian yang dia hadapi ketika mendengarkan music, atau juga berdasarkan perasaan yang sedang mendominasi jiwanya. Dan terkadang music memberikan moment tepat terhadap suasana hati, yang pada akhirnya masuk kedalam long term memory. Membuat kita jadi masuk kepada suatu kejadian terdahulu ketika mendengarkannya.

Dan beberapa music yang mengingatkan saya pada suatu memori adalah:

    1. Satu Rindu – Opick feat Amanda

Kalau denger lagu ini, saya merasa kembali pada saat SMA dulu. Waktu itu sedang ada training di daerah puncak. Lagu ini menancap dalam dan dengan segera mengingatkan saya pada sosok perempuan pertama yang saya kenal dalam hidup, Ibu. Pada saat materi, lagu ini diputarkan sebagai backsound renungannya. Belum lagi saat itu diluar gerimis. Benar-benar membuat hati gerimis ketika mendengarkannya kembali.

2. START – Depapepe

Depapepe merupakan duo group guitarist asal jepang. Saya mendapatkan koleksi-koleksi dari teman saya yang bernama Mamun, atau biasa dipanggil Mumun (hhe, map ya Mud :P).  Tidak ada moment yang mewakili untuk instrument ini, namun karena musicnya sangat energik. Dan juga saya paling suka denger instrument gitar dibanding instrument alat music lainnya.  Alhasil, sepertinya instrument abadi dalam playlist saya. Heeem, saya agak kurang informasi tentang kabar terbaru duo band ini. Apakah mereka sudah mengeluarkan album baru? Kalau ada yang tau, boleh disharing…

3.Hey There Delillah – Plain White T’s

Lagu ini saya denger pas jaman-jaman awal kuliah. Sekitar tahun 2007, bertipekan gitar akustik yang sederhana namun enak didengar. Saya suka mendengarkan lagu ini kala mengerjakan tugas dan di bis perjalanan pulang ke Jakarta.

4.Here, There, Everywhere – The Beatles

Pertama kali saya denger lagu ini versi akustik gitarnya tanpa ada vocal yang nyanyi. Melodinya bener-bener magis dan menghipnotis. Kalau denger versi akustiknya waktu seperti tersedot ke akhir tahun 2008. Dimana pada saat itu lagu ini menemani hari-hari saya dalam menyusun tugas D2 saya dulu. Lelah-lelahnya, suasana di kampusnya. Bekerja sampai larut malam. Ini instrument benar-benar juara!

5.Air – Bach

Instrument ini pertama kali saya dengar pas kelas satu SMA. Dulu pernah pinjem dari kaset MP3 punya temen. Dan pernah sempet ilang, dan saya ngga tau namanya apa. Karena waktu itu nama MP3 nya masih “Track-06”. Alhasil sempat hampir setahun saya cari-cari. Akhirnya ketemu juga dari hape temen yang suka music klasik. Dan dari situ saya tahu kalau namanya Air dari J.H. Bach.. Instrument ini selalu membuat saya mengharu biru. Instrument ini seperti mengajak saya untuk bernapas lebih dalam dan bersiap kembali untuk melangkah maju.

6.Menjadi Diriku – Edcoustic

Lagu ini saya sebut sebagai lagu kebangsaan buat group nasyid ARFA. ARFA merupakan group nasyid yang pernah ada di Politeknik Telkom. Setiap denger lagu ini, saya jadi terkenang moment latihan bareng, malem-malem dikosant temen, di ruang kelas. Dan kalau stock lagu udah abis. Biasanya lagu ini jadi lagu andalan. Hahaha, menyenangkan bisa mengingat moment ini lagi. Kapan bisa kumpul bareng lagi nih group ARFA?

7.Ya Sudahlah – Bondan Prakoso & F2B

Lagu ini muncul sekitar pertangahan 2010 kemarin. Lagu ini seakan menyemangati saya ketika penyusunan Proyek Akhir saat D3 kemarin. Lagu ini saya ulang-ulang terus menemani saya mengerjakan Proyek Akhir yang saya garap lebih dari 4 bulan. Liriknya sangat kuat dan menguatkan. Setiap mendengar lagu ini memori saya langsung berkelebat menuju memori saat-saat pengerjaan PA sampai dengan wisuda oktober 2010 kemarin. Respect buat Bondan Prakoso n F2B!

Sebenarnya masih ada banyak lagu atau instrument yang telah menemani perjalanan hidup ini. Namun inilah beberapa lagu yang paling membekas. Mungkin karena moment yang diangkat tepat dengan kejadian yang dialami. Akhirnya setiap lagu diatas jadi punya “taste” tersendiri bagi saya. Nanti saat sudah tua nanti (sekitar umur 70-an),  mungkin inilah playlist yang akan saya nyanyikan ketika karaokean. Dan anak-anak serta cucu-cucu saya nanti akan geleng-geleng kepala, dan berkata, “Selera musik mbah jadul banget..”.. hahahah #kejauhaan..  Jika episode hidup saya adalah film, mungkin ini bisa disebut sebagai soundtrack of my life.. Apakah anda punya soundtrack of your life juga???

Read Full Post »