Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2011

Apa yang pertama kali anda bayangkan ketika mendengar kata “hardwork”? Mungkin yang ada di bayangan anda adalah bekerja secara professional untuk mempersembahkan yang terbaik. Bekerja yang terfokus kepada kualitas kerja dan tidak meperdulikan kuantitas berapa jam anda telah bekerja. Yang diharapkan dari hasil kerja tersebut akan menghasilkan produk berkualitas, kepuasan bekerja dan kesejahteraan hidup.

Namun terkadang “hard work” yang telah lewat dari kadar batasnya tentu akan mengundang masalah yang tidak seharusnya ada. Itulah yang saya rasakan ketika dijejalkan oleh tugas yang bertubi-tubi dengan toleransi waktu yang terkadang sulit ditoleransi. Hari-hari yang tidak memberi kesempatan untuk bercengkrama dengan kehidupan social. Dan terkadang malah mengambil hak-hak “tanggal merah”. Yang dengan seketika akan berubah menjadi warna merah darah, killing me softly.

Bukankah untuk meningkatkan kualitas kerja amat sangat berbanding lurus dengan kenyamanan bekerja? Efektifitas “hard work” tersebut patut dipertanyakan jika ternyata menghasilkan hal yang sama saja atau malah lebih buruk dari yang biasanya. Ide yang saya ingin sampaikan disini bukan membangun mindset anti “hard work”. Hanya saja “hard work” yang kelewat batas tidak baik untuk kesehatan anda, untuk kehidupan social anda, maupun untuk hubungan anda dengan Sang Khalik yang terkadang kita acuhkan ketika beban kerja telah kelewat batas. Alih-alih pekerjaan ingin cepat selesai, ternyata malah semakin lama dan hasilnya tidak memuaskan.

 Tidak menjadi masalah jika panggilan lembur itu muncul dari dalam diri anda. Yang menjadi masalah jika perintah lembur datang dari orang lain. Jika ternyata memang itu yang terjadi. Jalani dengan sepenuh hati dan banyak-banyaklah berdoa memohon jalan terbaik kepada-Nya. Karena Allah paling senang mendengar do’a orang-orang yang terzalimi 🙂

Good Job, terus berkarya!!!

Read Full Post »

melati di tengah teh senjaku

adalah kepul sukma seorang ibu

dimana matahari matang menguning

arit-arit malam hendak memangkasnya

 

menyeduh senyum yang teduh

mengaduk semangat yang tunduk

menghirup cemas didada degup

nafasku memperjuangkan satu hidup

 

melati di tengah teh senjaku

adakah kau seorang putri diantara sekumpulan manjaku?

untuk memaniskan penat dipekatnya jurang bibir cawan

yang kadang tak bisa kulawan sendirian

 

14 Juni 2011

Pijar Kalam

“Ditulis saat penat melekat pekat, dan merasa butuh tempat bersandar”

Read Full Post »

Ini sebenernya tulisan yang sudah lama. Tulisan ini saya buat sekitar tahun 2008. Tulisan ini telah mengendap di blog saya yang lain setelah sekian lama. Cuma ingin me-refresh kondisi saat itu saja. Dan bisa terus saling berbagi hikmah 🙂

 

***************

   Sore itu, ditengah gerimis kecil dan hiruk – pikuk para mahasiswa yang tengah mengikuti Training ESQ di Aula Politel (Politeknik Telkom). Terlihat wajah – wajah yang harap – harap cemas menanti kedatangan Pak Menteri. Pak Menteri itu tiada lain dan tiada bukan adalah Menteri Negara Pemuda dan Olahraga dari Kabinet Indonesia Bersatu, yaitu Bapak Adhyaksa Dault, S.H., M.Si.

Kedatangan beliau amat dinanti – nanti oleh seluruh elemen masyarakat Politel. Ini dikarenakan Pak Menteri sempat menunda kedatangannya yang seharusnya datang pada hari Senin pagi tanggal 17 Nov 2008 menjadi hari Selasa sore tanggal 18 Nov 2008. Hal ini menjadi momentum yang amat berkesan bagi sejarah Politel yang baru saja memiliki gedung yang baru.

Beliau memberikan sambutannya di tengah kurang lebih 1000 mahasiswa Politel angkatan 2008. Sebelum memulai sambutannya, beliau memimpin shalat Maghrib terlebih dahulu. Setelah itu beliau pun memberikan sambutan yang menggugah semangat dan motivasi para mahasiswa. Beliau menceritakan kisah kecilnya dengan Sang Abah (panggilan akrab Ayahanda beliau), pada saat itu beliau ingin ikut pergi wisata yang diadakan oleh sekolah. Beliau pun meminta uang untuk biaya wisata tersebut kepada Sang Abah. Namun, melihat keadaan sang Abah yang hanya seorang PNS. Pak Menteri agak segan meminta uang yang cukup memberatkan orang tuanya. Tapi seketika itu Ayahanda Bapak Menteri menyanggupi untuk membayarkan biaya wisata tersebut.

Setelah biaya pergi wisata itu tersanggupi, beliau bersama adiknya pun hendak pergi. Namun, saat itu mereka juga tak punya ongkos untuk menghidupi mereka selama dalam perjalanan. Ketika meminta kepada sang Abah, uang itu tak kunjung diberi hingga tiba hari H. Di stasiun kereta api, pak Menteri bersama adiknya akan pergi tanpa ongkos. Ketika kereta datang, pak Menteri naik hingga kereta meniupkan peluit dan kereta berjalan pelan. Tiba –tiba dari kejauhan terlihat sang Abah berlari – lari, hendak memberikan sejumlah uang untuk Pak Menteri bersama sang Adik. Pak Menteri berusaha meraih tangan sang Abah, hingga akhirnya berpindahlah uang itu dari tangan sang Abah ke tangan beliau. Di kejauhan sang Abah pun mengacungkan 2 jempolnya. Kereta pun pergi menjauh.

Disini pak Menteri ingin menularkan tentang rasa bakti terhadap orang tua yang tak akan pernah terbayar sampai kapanpun, orang tua yang ingin melihat anaknya bahagia hingga mempertaruhkan segenap kemampuannya, dan juga tentang rasa syukur yang mendalam akan rizki yang telah diberikan Allah SWT kepada kita.

Beliau juga berpesan untuk mempunyai rasa iri hati terhadap orang yang sukses di kehidupan akhiratnya, bukan hanya sebatas iri hati dengan orang yang sukses dengan kehidupan dunianya. Kunjungan beliau diakhiri dengan doa bersama seluruh warga Politel.

Semoga saja harapan – harapan dalam doa itu Allah terima dan kabulkan untuk kemaslahatan bangsa ini. Berharap pemimpin – pemimpin negeri ini adalah orang yang bertakwa, orang yang semakin tawadhu dan bersyukur ketika berada diatas tampuk kepemimpinan, orang – orang yang menganggap amanah adalah utang yang besar, yang orientasi kepemimpinannya adalah ibadah pengabdian kepada Allah, dan generasi bangsa ini tidak menjadi generasi yang telah Allah musnahkan diakibatkan kesombongan dan kemaksiatan yang berulang dan semakin menjadi.
Selamat menjalankan amanah kembali Pak Menteri ! Semoga Allah SWT menjaga keistiqomahan kita. Amin…

Bandung, 20 November 2008
Pijar Kalam

Read Full Post »