Feeds:
Posts
Comments

Archive for August, 2011

Siang ini gue baca artikel dari detik

http://www.detiknews.com/read/2011/08/30/041448/1713399/10/?992204topnews

Artikel ini bagus banget kalau gue bilang. Dan berdasarkan artikel tersebut gue mencoba berpendapat lewat Twitter.

#1. bisakah kita mendapat angka milisecond dari jam pasir atau jam matahari? tentu tidak. hanya jam digital yang bisa.

#2. hilal dibawah 2 derajat pun dapat dilihat, tapi tidak dengan mata telanjang. melainkan dengan bantuan perhitungan.

#3. karena ilmu pengetahuan membuat semua perhitungan tersebut lebih pasti dan presisi. analoginya seperti jam pasir dan jam digital.

#4. mungkin jaman dulu waktu adzan ditiap tempat bisa beda dalam hitungan menit. karena parameternya adalah melihat posisi matahari.

#5. sekarang adzan bisa serempak dilakukan. karena terdapat perhitungan revolusi matahari. muadzin cukup melihat daftar waktu sholat.

Mengutip dari isi artikel itu juga, “Di masa Nabi SAW hilal hanya bisa ditentukan melalui rukyah. Sedangkan di masa kini dimungkinkan untuk menetapkan kapan bulan baru dengan akurasi tinggi. “

“Memperhatikan ketelitian perhitungan astronomi saat ini, kita dapat mengetahui dengan eksak mengenai kapan konjungsi geosentris terjadi dan kapan eksistensi hilal,” terang Sofjan.

Ya, gue condong lebih nyaman dengan hujjah ini. Ilmu pengetahuan menghitung perjalanan bulan dan matahari dengan tingkat akurasi yang tinggi. Yang melintasi garis edarnya secara teratur dan berulang terus menerus tiap tahunnya. Yang baru akan berubah kalau hari kiamat telah tiba.

Dulu kita ngga bisa melihat matahari dengan mata telanjang. Nyatanya sekarang kita bisa memfotonya. Dulu melihat makhluk ber sel satu mustahil, sekarang bahkan bisa melihat struktur tubuh makhluk ber sel satu tersebut. Di moto GP gap antar pembalap bisa dihitung dalam skala mili second. Jadi kemungkinan masuk garis finish dalam waktu benar-benar bersamaan rasanya hampir tidak mungkin. Maka, menghitung dan melihat perjalanan bulan dan matahari tentu tingkat akurasinya lebih tinggi bukan?

Ok, ini cuma pendapat orang awam. Dan gue akan terus belajar. Insya Allah…

Read Full Post »

Ulang Kampung

Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar… (everlasting takbir yang terus berkumandang di kubah hati ini i hope..)

Alhamdulillah, pagi ini gue merayakan Idul Fitri 1 Syawal 1423 H. Lebaran kali ini seperti lebaran tahun-tahun sebelumnya, ada dua versi. Dan gue memilih untuk lebaran sekarang. Kenapa? ya mungkin semua punya argumentasi dengan dalil-dalil shahihnya masing-masing. Dan gue ngga ingin memperuncing perbedaan, terutama buat saudara-saudara muslim seantero dunia yang masih satu akidah. Ikatan yang telah Allah SWT ikat dalam rasa iman, ngga ada yang bisa mencerai-beraikannya. Walau pake metode konspirasi, divide at empera secanggih dan semuslihat apapun. Umat muslim akan terus bersatu, Insha Allah…

Yaa.. pagi ini yang gue liat jalan Jakarta lengang banget. Kayaknya Jakarta baru berada pada kondisi idealnya ya pada saat-saat hari raya seperti ini. Dimana efesiensi bahan bakar kendaraan dan efektivitas waktu dijalan berada pada kondisi yang maksimum. Yang pasti berimbas pada produktivitas dalam melakukan aktivitas. Tapi sayangnya, waktu-waktu seperti ini cuma sebentar banget. Belum genap seminggu liburan nanti, Jakarta pasti bakalan kembali seperti hari-hari kemarin. Kemacetan yang semakin hari semakin mengental (haha.. mengental.. kayak cendol aja.)

(more…)

Read Full Post »

Ekspresinya mana???

Setiap hari saya membawa motor dari rumah ke kantor. Dan setiap hari juga saya memarkirkan kendaraan saya di tempat yang telah disediakan di depan kantor. Di parkiran tersebut saya mengenal seorang laki-laki tua yang senantiasa menjaga parkiran tersebut dari pagi sampai sore. Laki-laki tersebut tampak sederhana dalam berpakaian. Senantiasa mengenakan peci hitam di kepalanya.

Pada saat waktu menjelang pulang tiba. Saya menuju ke parkiran, memakai helm dan menyalakan mesin motor. Seperti biasa saya juga menyiapkan uang sebesar Rp1000 atau Rp2000 untuk membayar jasa laki-laki tua tersebut. Laki-laki tua tersebut sangat sensitif mendengar bunyi mesin motor yang dinyalakan. Jika ada suara motor yang dinyalakan, serta merta ia bangkit dari tempat duduknya di pos dan keluar mendekat ke asal suara.

Ya, mungkin memang begitu caranya menjemput rezeki. Senantiasa sigap kapan pun dan di manapun rezeki tersebut kira-kira akan muncul. Masalah nanti akan dapat atau tidak itu urusan nanti. Yang penting usahanya telah dikerahkan. Itu yang saya bisa terjemahkan pada sikap laki-laki tua tersebut.

Menariknya, setiap saya beri uang Rp1000 atau Rp2000 tersebut laki-laki tua tersebut dengan sontak menjawab dengan lantang, “Alhamdulillah!! Alhamdulillah.” Sambil tangannya ditengadahkan ke atas. Pertama kali saya melihat tingkahnya mungkin terbersit dalam benak, lebay banget. Tapi mungkin itulah ekspresi rasa syukur yang bisa dia ungkapkan. Dimana ia sangat menghargai seberapa pun rezeki tersebut datang. Jika tak ada yang memberi pun ia tak kecewa. Mungkin itulah alasan dia untuk selalu bahagia. Ekspresi rasa syukur itu tak bisa dibohong-bohongi.

Dari situ saya akhirnya melihat ke dalam diri saya sendiri. Sudah sebegitu sensitifkah kita dengan segala pemberiannya? Sekecil apapun itu? Segala yang datang tanpa kita minta. Segala yang mendekat tanpa kita duga. Kesehatan fisik, keluarga, rumah, sahabat, peluang menuntut ilmu, pekerjaan, rasa aman dan lain-lain, dan lain-lain. Dan sudah berapa seriuskah kita mengekspresikan rasa syukur tersebut? Ekspresi yang muncul dari kedalaman hati, tanpa dibuat-buat. Seperti laki-laki tua penjaga parkiran tersebut, senantiasa berteriak lantang, “alhamdulillah!!! alhamdulillah” jika ada yang memberikannya uang berapa pun.

Mengeluh mungkin seperti monitor LCD yang ada dead pixel-nya. Kita terfokus pada setitik kecil hitam yang ada di monitor, kemudian melupakan bahwa bagian monitor yang lainnya masih berwarna-warni. Masih bisa digunakan untuk memunculkan warna-warna cahaya yang terang. Daripada mengeluhkan titik dead pixel yang besarnya tak seberapa dibandingkan keseluruhan layar, mari mensyukuri warna-warna lain yang masih tersaji. Dan Allah Yang Maha Rahman tak lagi-lagi bertanya kepada kita atas rezeki yang telah diturunkannya, “Mana Ekspresinya?”

nb: buat kalian yang pingin tahu bagaimana ekspresi laki-laki tua tersebut. Silahkan lihat gambar di bawah ini. Bedanya, dia laki-laki dan mengenakan peci hitam. Can you imagine that? 😀

Read Full Post »

Kebun Bunga

mungkin ini seperti cahaya langit yang disorotkan langsung kepada beningnya hatimu. pendarannya memiliki sayap yang memeluk khatulistiwa. beresonansi dari pangkal timur sampai ujung timur. kebun pengetahuan yang kau miliki memanen bunga-bunga hikmah sepanjang musim.

Ah, semerbak sekali!

Jakarta, 20-08-2011

Pijar Kalam

Read Full Post »

Rindu Gurun

gurun hanyalah pasir yang belum pernah bertemu ombak
tunjukanlah jalan menuju samudera
maka dera-dera raga dahaga mereda
dan matahari kan menjelma menjadi seteduh lampu taman

lalu, siapakah angin yang mengantar ke bibir-bibir pulau?
dimana teras-teras pantai digelar begitu saja
lalu angin seperti seorang dermawan yang terus berbagi semilir
kita menikmatinya serentak, tanpa perlu menunggu gilir

sudah sedari dulu alam mentasbihkan irama purba
yang katanya bocoran dari irama surga
dan gurun adalah raja perkasa yang rindu
didamaikan pantai. dilembutkan lautan.

Ombak, berdenyutlah
giringlah segala macam mutiara, bebatuan permata
bawakanlah untuk gurun sebaik-baik perhiasan
ia pun akan menunduk sejujur-jujurnya tanpa kiasan

Pijar Kalam
Jakarta, 15 Agustus 2011

Read Full Post »

Namanya Juga Indonesia.

Ternyata keuntungan dari jalan-jalan dengan menggunakan kendaraan umum adalah kita bisa melihat segala bentuk interaksi sosial yang terjadi di sekitar kita. Segala hal yang terjadi di lingkungan sosial selalu memiliki sudut pandang yang berhikmah. Maka bagi seorang observator kehidupan. Lingkungan sosial adalah labotarium terbesar yang pernah ada.

Beberapa minggu yang lalu gue berkesempatan untuk jalan-jalan ke Pekan Raya Jakarta bareng temen-temen. Biar praktis dan nggak semua temen punya motor. Alhasil berangkatlah kami semua dengan menggunakan armada Bus TransJakarta. Karena gue jarang banget naik kendaraan umum. Paling sering naik motor sendiri.

Trans Jakarta hari itu rame banget. Noda transportasi yang katanya jadi jawaban atas macetnya Jakarta ternyata belum terjawab sepenuhnya. Banyak banget warga Jakarta yang keluar hari itu. Jakarta ternyata masih menarik di mata mereka untuk di jajaki dan dikunjungi tempat-tempatnya. Termasuk gue juga kalo gitu 😀

Singkat cerita gue naik Trans Jakarta yang mau menuju Monas dari shelter Dukuh Atas. Bus udah penuh banget. Hal yang menjadi keniscayaan adalah: banyak orang = banyak obrolan. Dan itu yang gue rasakan, obrolan bersliweran di Bus Trans Jakarta yang tak seberapa besar itu. Mulai dari obrolan nanya alamat. Obrolan pertanyaan mau makan dimana. Obrolan antara penjaga pintu Bus sama supirnya. Dan kata dosen gue dulu, obrolan yang ngga pernah ada matinya dan selalu menarik diperbincangkan dalam sejarah umat manusia itu ada dua, “tentang nikah sama hantu”. Walau gue ngga denger obrolan jenis itu. Tapi gue yakin kemungkinan ada, apalagi obrolan tentang “nikah”. Selalu jadi trending topic menarik bagi para bujanger’s.

Dari banyaknya obrolan itu gue denger satu obrolan yang kayaknya lagi ngobrolin sesuatu yang berhubungan dengan “telat dateng”. Orang A bilang, “Itu tuh si ‘Bunga’ (Nama Samaran) sering banget telaaat. Padahal udah berkali-kali dicengin sama temen-temen.” Terus orang B jawab, “yaudah sii.. Nyantai aja kali. Namanya juga Indonesia.” Wooow, enteng banget orang B tersebut jawabnya.. “yaudah sii.. Nyantai aja kali. Namanya juga Indonesia.”

Kata-kata terakhir itu yang menggelitik gue buat dibahas. “Namanya juga Indonesia”. Kok gampang banget yaa bilang hal yang jelek-jelek terus akhirannya bilang, “Namanya juga Indonesia.” Kata-kata yang diucapkan B itu seakan bilang, “Ga papa kali telat, namanya juga Indonesia.” Terus ngelebar ke yang lain, “ga papa kali nerobos lampu merah, namanya juga Indonesia” terus aja mengkambing-hitamkan Indonesia, “ga papa kali korupsi, namanaya juga Indonesia.”

 Kenapa sih gampang banget jelek-jelekin bangsa sendiri. Padahal yang bikin salah itu individu. Cuma orang-perorangan. Tapi kok pake nama “Indonesia” dibawa-bawa. Gue mungkin ga komen sampe bikin tulisan kaya gini kalo si B bilang, “Ga papa kali.. Namanya juga Bunga.” Itu baru namanya adil. Yang salah yang di bilang. Yang salah yang bertanggung jawab terhadap kesalahannya sendiri.

Kenapa penting? Karena ini masalah mindset. Masalah pola pikir yang membawa kepada pola tingkah laku. Tingkah laku jadi kebiasaan. Kebiasaan jadi tradisi. Tradisi jadi budaya. Budaya jadi karakter sebuah bangsa. Karakter bangsa yang pada akhirnya membuat kita pede atau ngga pede di hadapan Negara lain. Ngga mau di dikte-dikte. Punya masa depan di tangan sendiri.

Sayang banget rasanya kalau perjuangan para syuhada yang ngusir penjajah mati-matian. Pada akhirnya cuma jadi “status merdeka” doang. Tapi mental masih ga pede sama bangsa sendiri. Gue juga kadang kala sering telat. Sering juga ngga tertib sama peraturan. Ayo, kita mulai. Saat salah cukup salahkan diri kita sendiri. Ini karena kitanya aja yang kurang disiplin, ini karena kita aja yang malas. Jangan pernah lagi gunakan kata “namanya juga Indonesia”  disetiap kesalahan yang kita buat. Karena gue yakin Indonesia ngga gitu!

Pijar Kalam

Jakarta, 11 Agustus 2011

Read Full Post »

Hari Ini…

Hari ini. Berdasarkan kalender masehi. Umur saya telah berkurang 1 tahun. Digit angka yang melekat pada diri ini bertambah satu. Saat ini saya menyandang status sebagai laki-laki berumur 22 tahun. Perubahan digit-digit angka itu merupakan keniscayaan.  Karena kita hanyalah makhluk yang masih terikat oleh dimensi ruang dan waktu. Makhluk yang tumbuh berkembang seiring siang dan malam. Dan waktu selalu memiliki awal dan akhir. Begitu pun kita, memulai hidup dari awal. Akan berhenti pada akhir. Sebelum berada pada keabadian, digit-digit angka tersebut selalu melekat pada diri ini. Keabadian pastilah keadaan tanpa waktu, tanpa digit-digit angka.

22 tahun, bukan waktu yang sebentar untuk berjalan di muka bumi. Bukan waktu yang sebentar untuk melihat keadaan sekitar dan meresapi “saya ada dimana dan sekarang mau kemana?”.

Allah Swt Berfirman:

“Dan bukankah Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang panjang yang mana cukup untuk berfikir bagi orang-orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah azab kami dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun.” (QS Al-Fathir:37).

Ya ketika sudah tiba waktunya nanti, kita tidak bisa membantah. Kita tidak bisa mengelak. Bahwa waktu kita di dunia tidak cukup untuk meresapi ayat-ayat-Nya. Kita tidak bisa protes begini, “Ya Allah, engkau kurang memberikan waktu kami di dunia.. Sehingga kami kekurangan waktu untuk lebih mengenalMu, untuk memahami tujuan kami di dunia dahulu..” Tidak bisa kawan, kita tidak bisa protes. Karena Allah SWT telah memberi waktu yang cukup panjang untuk kita berfikir.

Dan yang saya syukuri bahwa hari lahir kali ini jatuh bertepatan dengan bulan Ramadhan. Bulan dimana segala kebaikan dilipat-gandakan. Doa-doa mustajab. Semua muslim seantero dunia sedang menikmati jamuan iman yang manisnya hanya bisa dirasakan oleh mereka yang berpuasa.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tiga orang yang tidak tetolak doanya: Orang yang sedang berpuasa ketika berbuka, imam yang adil dan doa orang yang terzhalimi.” (HR: At-Tirmidzi 2528).

Waah, luar biasa. Bagaimana kalau ada pemimpin yang adil sedang dizhalimi dan beliau sedang berpuasa. Pasti mustajab doanya berkali-kali lipat ya..haha…

Terima kasih untuk semua yang telah memberikan ucapan dan doa. Semoga kebaikan doa-doa tersebut juga balik kepada yang mendoakan.

Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Tiada seorang hamba pun yang muslim yang berdoa untuk saudaranya yang tidak ada – yakni yang waktu itu tidak ada di sisinya, melainkan malaikat akan berkata: “Engkau juga memperoleh sebagaimana yang engkau doakan itu.” (Riwayat Muslim)

Semoga Ramadhan kali ini menjadi Ramadhan terbaik yang pernah kita miliki. Selamat berpuasa semuanya!!! 😀

Read Full Post »

Older Posts »