Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2011

wasiat

ada yang berwasiat kepadaku

saat sedang duduk mengikat tali sepatu

“di dunia ini ada hal yg harus kau ikat dan jangan dilepas lagi

agar selamat.” katanya

.

ada yang berwasiat kepadaku

saat sedang menghidupkan mesin motor

“segala yang dihidupkan, pasti akan dimatikan.” katanya

.

ada yang berwasiat kepadaku

saat mencuci tangan didepan wastafel

“tanganmu boleh saja bersih, tapi tidak dengan nama baik.” katanya

.

di depan cermin kamar kecil itu

ada sesosok yang ternyata sedang berwasiat kepada dirinya sendiri

“telinga, adakah kau dengar?” tanyanya

***

Jadi teringat kisah disaat detik-detik terakhir Rasulullah hendak dicabut nyawanya. Beliau tidak menyebut nama istrinya, tidak menyebut anak-anak dan cucu-cucunya, tidak menyebut sahabat-sahabatnya. Yang disebut “ummati, ummati, ummati…” Beliau sangat khawatir dengan keadaan umat sepeninggal beliau. “Dirikanlah sholat, dirikanlah sholat, dirikanlah sholat.” Demikian wasiat terakhir Rasulullah.. Sebelum akhirnya ruhnya disambut oleh penduduk langit..

Read Full Post »

Tiadalah seseorang itu di dunia ini melainkan sebagai tamu dan hartanya sebagai pinjaman. (Ibnu Mas’ud)

Subhanallah, sungguh indah kata-kata di atas. kata yang diucapkan oleh salah satu sahabat Rasullullah SAW.

Pemilihan diksi yang tepat. “Tamu”, imaji kita langsung membayangkan bahwa dunia ini sebuah tempat yang hanya sekedar singgah. Bukan tempat untuk berlama-lama dan berleha-leha. Sebagaimana kita bertamu, sekedar cukup bertegur sapa dengan tuan rumah, berbagi cerita sebentar, menumpang sholat, kemudian bersiap-siap untuk pamit. Timbul rasa segan jika terlalu lama, karena takut mengganggu tuan rumah.

“Pinjaman”. Sebagaimana sifat pinjaman, seberapa banyak pun yang kita pinjam. Semuanya harus dikembalikan.  Barang pinjaman juga akan diperlakukan dengan lebih hati-hati, jangan sampai rusak, jangan sampai hilang. Sebab akan tiba saatnya nanti yang memiliki barang tersebut akan menagih dan meminta pertanggungjawaban. Rasa memiliki segala kekayaan materi yang melekat pada diri ini dengan seketika sirna.

Matafora yang terbangun pada kalimat singkat diatas pun utuh dan memberikan kesan mendalam.

Begitulah tugas puisi. Tugas puisi/bahasa yang sastrawi bukan hanya menyampaikan nilai kebenaran (itu sudah diambil alih oleh hukum dan nash-nash dengan bahasa yang lugas dan jelas). Yang paling penting, tugas bagi puisi adalah meninggalkan kesan  terhadap nilai kebenaran tersebut. Sehingga akan muncul nilai estetis yang langsung meresap kedalam kalbu pembacanya. Menyalakan tiap-tiap sudut jiwa dengan cahaya hikmah. Maka puisi yang paling baik adalah puisi yang membekas paling dalam.

Jakarta, 22 September 2011

Pijar Kalam

Read Full Post »

H.O.S Tjokroaminoto

“Tidak ada manusia menjadi oetama jang sesoenggoeh-soenggoehnja, tidak bisa manoesia menjdadji besar dan moelia dalam arti kata jang sebenarnya, tidak bisa menjdadji berani dengan keberanian jang soeci dan oetama, kalau ada banjak barang jang ditakoeti dan disembahnja.

Keoetamaan, kebesaran, kemoeliaan, dan keberanian jang demikian itoe, hanjalah bisa terjapai karena “Tauhid” sahadja. Tegasnja, menetapkan lahir batin: Tidak ada sesembahan, melainkan Allah sahadja.”

Kata-kata diatas gue kutip dari buku Api Sejarah 1 karya Ahmad Mansur Suryanegara. Sepertinya tokoh idola gue bertambah lagi setelah gue baca bagian yang menceritakan Hadji Oesman Said Tjokroaminoto.Salah satu tokoh pendiri Syarikat Islam.

Ingin banget gue bercerita panjang lebar tentang buku ini. Semoga ada waktu luang buat resensiin buku ini. Bagi yang baca, gue rekomendasiin buku ini, “API SEJARAH” buku ini bener-bener ada apinya!

Read Full Post »

Bedanya

A : Mau kuberi tahu bedanya penjajahan jaman dahulu dengan penjajahan jaman sekarang?

B : Heem, memangnya apa bedanya?

A : Bedanya, penjajahan jaman dahulu kita adalah bangsa yang memiliki sayap yang kuat, namun kita terpenjara dalam sangkar kolonial. Sedangkan sekarang, tak ada lagi sangkar tersebut, namun sayap kita dipatahkannya.. Hebat bukan? Ini seperti penjara tanpa jeruji besi..

B : Bagaimana caranya agar kita bisa terbang dan menjelajah lagi di langit kita sendiri?

A : Gampang saja, sembuhkan sayap kita SENDIRI, tak butuh bantuan orang lain untuk menyembuhkan sayap kita sendiri.. lalu TERBANG… Selama ini kita adalah rajawali yang dipaksa menjadi burung pipit kawan! Sejarah terlalu lama kita biarkan menipu dirinya sendiri…

Read Full Post »

@fiksimini topik: #veteran

1. JAGOAN. Kakek sedang memamerkan puluhan koleksi peluru yang pernah tertanam di tubuhnya. Kado ultah darinya pun senapan angin.

2. BENIH JEPANG. “Nek, kenapa ibu matanya sipit?” | “oh,waktu mengandung ibumu nenek kurang vitamin A.” Tiba2 wajah kakek merah murka.

3. 99 KALI PENOLAKAN, 1 KALI PENERIMAAN. “Nak, ibumu lah yg membuat ayah jadi veteran” | “Veteran apa yah?” | “Veteran cinta. haha”

4. KOPI INI HANYA UNTUK VETERAN. Kucuri dari gudang perbekalan Jepang dulu. Ini kopi terpahit yang pernah ada. Walau dengan gula.

5. “PETANI itu pasti mantan pejuang.” | “hah, darimana kamu tahu?” | “itu, gagang paculnya modifikasi dari bayonet.”

6. SPAGHETTI kakek selalu tanpa saus. Ia benci darah. Ini menyadarkanku, perang begitu meninggalkan trauma mendalam baginya.

7. “ADIK ingin jadi pahlawan, tapi ga mau jadi veteran!” | “lho? kenapa?” | “lebih baik langsung gugur daripada nanti hidup susah.”

Jakarta, 16 September 2011

Pijar Kalam

Read Full Post »

@fiksimini topik: #tetangga

1.  TETANGGA MENTERI. “Yah, kapan mereka mengundang kita makan dan kasih sembako lagi?” | “Kapan saja Nak, asal kita undang wartawan.”

2. “RUMAH kami hampir tanpa sekat. Suara jeritan tetangga seringkali terdengar” kata salah satu penghuni pekuburan di Jakarta

3. “RUMPUT mereka memang lebih hijau, Ma. tapi siapa peduli, kta selalu lebih merah jambu dibanding mereka!” | “haha, Papa bisa aja”

4. BURON. “Jarang-jarang ada orang mau pindah ke daerah ndeso ini, siapa dia?” | “tadi kenalan, namanya ada udin-udinnya.”

5. HAJI. “Pa, tetangga udah pergi haji 7 kali, kita kapan?” | “Besok Ma.” | “Hah, beneran? Pergi haji?” | “Nggak, pergi ngaji! :p”

 

Jakarta, 15 September 2011

Pijar Kalam

Read Full Post »

makna dan simbol

perkawinan antara makna dan simbol
dari situ bahasa lahir
maka kau adalah makna tanpa simbol
sesuatu yang belum terbahasakan
dan walaupun nanti menemukan mu
aku akan tetap dalam pencarian seumur hidup
seperti astronom yang tak pernah bosan
memandangi langit yang itu-itu saja

keindahan yang ingin aku pahami sedalam-dalamnya
surga yang ingin aku definisikan seluas-luasnya
: kau

Jakarta, 14 September 2011
Pijar Kalam

Read Full Post »

Older Posts »