Feeds:
Posts
Comments

Archive for August, 2013

Semua orang tentu ingin hidup dalam kondisi jiwa yang tentram. Kondisi dimana kebahagiaan tumbuh subur yang kemudian mengundang rasa syukur yang terus menerus tumbuh menjadi besar. Jika rasa syukur akan mengundang kesyukuran yang lain, tentu rasa kufur juga akan mengundang kekufuran yang lain.

Saat ini saya sedang menuntaskan buku “Terapi Berpikir Positif” karya Dr. Ibrahim. Pada buku tersebut setidaknya saya bisa memahami bahwa segala sesuatunya bermula dari pikiran. Sesungguhnya ia adalah setir kemudi yang mengarahkan pada tujuan. Bukankah pikiran positif timbul dari hati yang bersih? Hati yang penuh tawakal kepada Allah dan menjadikan Dia adalah satu-satunya sandaran maha kokoh.

Tabiat pikiran sama seperti impuls listrik pada komputer, jika tidak dalam keadaan bertegangan (dinotasikan 1 pada bilangan binner) maka dalam keadaan tanpa tegangan (dinotasikan 0). Pikiran juga begitu, kita tidak bisa memikirkan sesuatu pada saat yang bersamaan. Jika sedang tidak memikirkan hal positif, berarti sedang memikirkan hal negatif. Tidak ada.kondisi netral, jika tidak negatif berarti positif.

Beberapa faktor yang mempengaruhi cara berpikir menurut buku tersebut ada sebelas, diantaranya kehidupan masa lalu, faktor internal, faktor eksternal, rutinitas yang negatif, konsentrasi pada sesuatu hal.

Hemat saya megendalikan pikiran merupakan keahlian yang harus terus diasah setiap hari. Fokus pada hal-hal yang mengundang syukur dengan terus bertakwa kepada Allah merupakan salah satu kunci melatih kemampuan berpikir positif.

#catatan #malam

Read Full Post »

Al-Hambra

Saya biasanya suka menyebar buku-buku yang belum dibaca di penjuru rumah. Ada yang disamping tempat tidur, di ruang tamu, di ruang tengah. Dengan maksud buku-buku tersebut dijadikan selingan di sudut manapun saya berada dalam rumah. Jadi jika ada waktu untuk bengong, saat itulah saya meraih buku dalam jangkauan terdekat. Membaca beberapa judul sekaligus juga merupakan cara saya mengatasi kebosanan dalam membaca, untuk variasi biasanya genrenya pun saya bedakan, fiksi dan non fiksi.

Saat ini sedang membaca novel “99 cahaya di eropa”. Karya dari Hanum Rais beserta suami. Buku yang menceritakan peninggalan kejayaan islam yang masih tertinggal di eropa. Betapa terdapat sebuah kontradiksi, cahaya ilmu pengetahuan muncul ketika eropa meninggalkan agamanya. Sedangkan di bumi bagian timur cahaya ilmu pengetahuan muncul ketika masyarakat termotivasi oleh nilai-nilai Islam yang kaffah.

Tidak heran jika eropa saat ini banyak yang agnostik (percaya ada kekuatan maha besar dalam dunia ini, namun antipati terhadap agama). Sehingga bermuara pada pandangan sekular dan liberal. Mendikotomisasikan peran agama dan negara. Agama tidak boleh ikut serta pada urusan sosial, budaya, ekonomi, hukum, pertahanan dan keamanan.

Namun sisa fakta sejarah di Cordoba dan Andalusia berkata lain. Karena dimotivasi oleh nilai-nilai agama lah (baca: islam) suatu citizen mampu mengkonstruksi peradaban dengan norma-norma luhur sehingga terciptanya masyarakat yang adil, damai, toleran, sejahtera, dan bersemangat dalam ilmu pengetahuan.

Istana Al-Hambra, dengan segala kemegahan arsitekturnya keindahan seni kaligrafinya menjadi saksi bisu terhadap betapa majunya peradaban saat itu. NamunĀ  seperti yang kawan saya pernah katakan, “Umat terdahulu telah memperjuangkan apa yang mereka perjuangkan dahulu dan mereka juga telah menuai hasilnya. Itu tetap menjadi amal mereka. Sedangkan umat sekarang harus memperjuangkan amal mereka sendiri” . Saya menangkap pesannya, bahwa kejayaan tidak serta merta terulang dengan terus menerus mengenang romantika masa lalu tanpa diambil tindakan nyata pada konteks kekinian.

Ya, suatu saat semoga saya bisa kesana, Al-Hambra. Sekedar menapak tilas hasil kerja umat terdahulu. Mengambil saripati hikmahnya. Kemudian melanjutkan estafet warisan peradaban.

Read Full Post »