Feeds:
Posts
Comments

ahad pagi

Ketika saya menulis ini, subuh masih mengukung langit dengan kesejukan yang menyambar sampai ke balik rongga dada. Terjaga sedari jam satu malam. Dalam benak bergentayangan segala hal yang baru muncul ketika sepi menyelimuti. Tentang hidup, umur, waktu, masa lalu, masa depan, kesia-siaan yang sudah terlewat, segala harapan yang menggantung di langit – langit kamar.

Kesalahan di masa lalu seringkali mengubah cara pandang kita untuk selamanya. Menubah cara pandang dalam melangkahkan kaki ke masa depan. Nasihat “jangan jatuh ke lubang yang sama dua kali” pasti terucap dari orang yang sudah melakukan kesalahan, kemudian menyesal, kemudian melakukan kesalahan lagi, kemudian timbulah penyesalan yang lebih dalam dari yang pertama.

Empati, untuk mengetahui perasaan orang – orang yang lapar kita juga harus mencoba rasanya lapar. Sehingga timbul common feeling bahwa “lapar itu tidak enak, saya gak mau orang – orang di sekitar saya kelaparan”. Untuk orang – orang yang pernah terluka dalam hidupnya. I know that feel bro! Setidaknya sudah ada common feeling bahwa kita tidak akan menyakiti orang lain karena kita sudah tahu rasanya gak enak.

Bangun dan sadar terasa lebih menyenangkan daripada tidur. Terutama ketika saya sadar, banyak hal-hal yang terlewat dalam hidup ini banyak hal-hal yang diinginkan di masa yang akan datang, sedangkan batas umur kita sudah bisa mengira-ngira. 70 tahun masih bisa bernafas sudah syukur alhamdulillah.

Ya sudah, selamat beraktifitas di hari ahad. Setiap detik hidup anda begitu berharga!

Salam.

 

 

 

Advertisements

Image

sumber gambar: google.com

Akhir – akhir ini banyak lalu lintas data film dalam harddisk saya. Mulai dari film rekomendasi sampai film yang judulnya belum pernah saya dengar pun tumplek di harddisk. Alhasil harddisk saya penuh. Saat lenggang, saya coba menonton satu-satu, berharap setelah banyak yang ditonton ada yang bisa dihapus dan bisa menambah ruang kosong harddisk yang semakin sempit. Tapi apa yang terjadi? Kecepatan menonton saya tak sebanding dengan kecepatan film-film baru yang beredar!! produce – consume menjadi tak seimbang.

Lalu saya lihat rak buku di kamar saya. Ada novel yang belum selesai dibaca, padahal bukunya dibeli 3 bulan yang lalu. Ada buku biografi yang belum sempat terbaca juga. Saya sadar, ternyata saya lebih banyak menikmati gambar bergerak daripada teks diam. Padahal yang saya rasakan, input pengetahuan membaca lebih banyak daripada input pengetahuan dari menonton, walau efek fun dari menonton mungkin lebih dominan.

Harus ada yang diubah. Saya filter film-film yang dari segi cerita dan rattingnya bagus saja. Beralih ke film dokumenter yang kaya informasi juga bisa jadi pilihan, selain itu tak lupa punya target buku yang harus diselesaikan. Ayo membaca! *bersihin debu yang nempel di buku*

Image

Di tempat saya bekerja saat ini, ada hal sederhana namun menarik yang ingin saya ceritakan. Di daerah Sudirman terdapat tukang ketoprak langganan saya. Ketoprak tersebut berhasil memikat lidah saya sehingga saya rutin membeli dari tukang ketoprak tersebut (minimal seminggu sekali).

Beberapa waktu lalu saya sempat berbincang dengan tukang ketoprak tersebut. Saya menanyakan “Mas, disini yang jualan ketoprak dimana aja?”. Tukang ketoprak tersebut menjawab, “Disini ada 4 mas”. Saya tanya lagi, “Yang tiga rame juga?”. Dan tukang ketoprak tersebut kembali menjawab, “yaaa.. rame tapi gak serame sini. Orang-orang dari kantor atas juga biasanya juga pada belinya kesini”. Waaah, kok bisa rame yaa..

Tukang ketoprak itu pun membeberkan rahasia yang sebenarnya bukan rahasia jika dicermati. “Ketoprak yang lain togenya gak mateng, bumbu kacangnya sedikit. kecapnya juga pake kecap Nasi*nal, kalo saya kan pake kecap Ba*go. Padahal harganya sama-sama Rp8000.” Dari penjabaran singkat tersebut, ada satu kata terbersit dalam kepala saya, yaitu TOTALITAS.

Tukang ketoprak tersebut telah mengajarkan saya tentang arti totalitas. Profesi yang dikerjakan sepenuh hati, dalam rangka ibadah, dan senantiasa memberikan yang terbaik akan membawa keberuntungan dan keberkahan. Tanpa promosi macam-macam pun, kustomer tahu kemana lidahnya harus mengecap rasa, sebab rasa gak bisa bohong.. hehe.. Dari tukang ketoprak tersebut pun saya belajar….

hashtag #newthingsiknow ingin saya pakai buat menceritakan hal-hal yang baru saja saya ketahui. Hal-hal baru selalu saja membawa warna baru, pengalaman baru dan keceriaan yang baru. Maka sangat disayangkan jika tidak terdokumentasikan dan terlewatkan begitu saja.

Kemarin sabtu ada wisuda di UI. Akses jalan Pocin yang nembus ke arah margonda ditutup. Akhirnya dicobalah cari jalan lain yang tidak biasa saya lewati. Kami cari jalan ke arah Politeknik Negeri Jakarta. Disana ada akses jalan setapak yang muat untuk 2 motor. Cukup, namun tidak terlalu lebar. Jadi harus berhati-hati agar tidak terperosok. Mengingat jalannya juga berkelak-kelok.

Singkat cerita, di ujung jalan. Kami tidak tahu kemana harus melangkah. Berbekal intuisi kami menelusuri jalan dengan harapan bertemu jalan Margonda Raya.

Image

Sampailah di Jalan Arif Rahman Hakim. Pertigaan yang dekat dengan ITC Depok. Image

#newthingsiknow hari ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. 🙂

 

 

 

gadis ilalang

pagi ini seorang gadis berdiri di padang ilalang.

disana rerumputan jumlahnya tak terbilang.

seperti harapan yang tak kunjung hilang.

*

angin bergantian menghembuskan aroma tanah,

berdesir-desir.

maka hiruplah ia; berdesakan dalam dada

semangat yang tak mudah menyingkir.

cahaya ruang angkasa yang sampai pada matamu

adalah ruh penghabisan dari berkas-berkas terang bintang mati.

langit malam selalu hadir dalam kisah masa lalu.

ia adalah hikayat bangsa kunang-kunang.

ia adalah roman tentang kenang-kenang.

maka perhatikanlah,

pada bintang mati itu cahaya tak bertuan.

ia seperti nama baik bagi seseorang yg telah mangkat.

mengabadi dalam ingatan.


Jakarta, 22 Mei 2012

Pijar Kalam

Siapa yang tidak mengenal Andrea Hirata? Setelah sukses dengan novel tetralogi “Laskar Pelangi”. Kemudian karya dwiloginya yang berjudul “Padang Bulan” dan “Cinta dalam Gelas”. Semua dari judul yang telah disebutkan sebelumnya itu telah saya baca hingga lunas. Dan karya yang terakhir kali saya baca adalah novel tentang sepakbola yang berjudul “Sebelas Patriot”.

Hal pertama yang saya tangkap dari novel ini adalah ini buku yang cukup tipis untuk sebuah novel, terutama buku yang pernah ditulis oleh Andrea Hirata. Namun dari tipisnya buku tersebut terlihat perubahan yang sangat baik, judul dari bab ke babnya menjadi apik dan tertata secara rapih. Alur cerita menjadi kuat, tiap bab menyampaikan gagasannya sendiri-sendiri secara baik.

Hal ini menjadi daya tarik tersendiri, seperti permainan sepakbola, Andrea Hirata terlihat taktis dalam memainkan kata-katanya pada novel ini. Benar saja, dari laman internet yang saya baca, “Pria lajang ini mengaku tak tertarik lagi pada keindahan kata namun tak memberi dampak. Ia kini lebih memilih menulis dengan gagasan yang menggerakkan.”

Ceritanya mengharukan dan menggetarkan, saya menyarankan untuk membacanya 🙂

Untuk referensi lebih lengkap disini