Feeds:
Posts
Comments

Archive for February, 2010

Sebenarnya aku tahu, aku harus menyulam langit
Menjadikannya indah untuk tempat bersemayam para mimpi
Sebagai teman untuk biru, matahari, bulan, awan, dan bintang
Namun, mengapa tanganku membatu?
Hatiku pun kaku, tak bisa merasakan asmara-Nya

Sebenarnya aku tahu, aku harus menapaki gurun dan samudra
Menjadikannya taman – taman yang berwarna – warna
Biar asma-Nya dia rasa, dari udara, dari panorama semesta
Juga dari sukma yang menyala – nyala
Namun, mengapa kakiku mati rasa?
Enggan berlari, enggan memahami

Sebenarnya aku tahu, aku harus merangkaikan kertas putih
Menjadikannya tempat untuk kata menemukan maknanya
Menggugah kalimat terpuji untuk bersusun – susun
Dan menjelma menjadi paragraf peradaban
Dan tertuanglah gagasan nan mulia yang menyelimuti siang dan malammu
Namun, mengapa jengah keburu menjebakku?
Pena pun berdebu, kertas pun menjadi kelabu

Sebenarnya aku tahu, amanah selalu memaki waktu
Karena waktu mencekiknya bertambah – tambah tanpa ampun
Perhitungan perkara zarrah hingga perkara uhud pun sebentar lagi sampai
Namun, mengapa diam merasuki detik – detikku?
Tanpa bosan menatapi hampa

Mungkin karena terlalu lama aku melihat hitam
Mungkin karena terlalu lama aku mendengar hitam
Mungkin karena terlalu lama aku merasakan hitam

Dan mungkin karena terlalu lama aku merasa jadi putih…

afm,
Bandung, 10 September 2009

Advertisements

Read Full Post »

Kepada aku yang diajari waktu
Selalu menghilang stasiun yang lalu
Dalam memori yang tak mau mengaku
Hingga sejarah pun melingkar jemu

Adakah tali yang dapat kugenggam?
Atau pasak yang memancang jiwaku?
Agar aku menjadi jantung karang
Ditengah potret – potret hari yang meradang

Didalam sumsum mentari
Atau dalam segalon semerbak angkasa
yang memenuhi ronggaku
Masih tak dapat kubentang langit – langit
yang tak mendung
Masih tak bisa kusulam jubah jiwa yang tak berlubang
Semua mendengkur di atas gerbong kebosanan

Aku menulusuri setiap guratan wajah kepahlawanan
Berharap kutemukan mata air keberanian
Mencairkan prasasti tekad yang membeku kelu
Selama ribuan purnama malam terlelap dalam

Diujung pena para sastrawan
Dapat kurasakan panas tinta yang mendidih
Meletup – letupkan inspirasi abadi
Menyala – nyalakan tiap sudut gelap seorang hamba

Diantara dentingan pedang para ksatria
Terhunus tinggi menantang badai – badai; kilat – kilat; petir – petir
Karena cahaya hati terlalu berharga untuk dipadamkan
Walau pedang akan patah; nyawa akan luluh lantah

Maka akan ada wajahnmu pada wajahnya
Ada wajahnya pada wajahmu
Ada tekadnya pada hatimu

Read Full Post »

Pilihkan Aku

kepada separuh ruang kosong dibalik jiwa
yang belum kutemukan diksi tentangmu
layaknya hujan dan mentari yang menjadikannya pelangi
layaknya lembah dan air yang menjadikannya telaga
lalu aku menjadikan apa? entahlah, karena belum kutemukan “siapa”

aku ingin merangkaikan syair tentangmu
namun, kata yang tercecer belum juga ditemukan oleh waktu
dan aku lagi-lagi harus membantu waktu mencari kata
di udara, di balik daun-daun gugur, di embun yang bergelantung pada rerumputan
hingga saat ini kata belum mau berkata dan diksi tentangmu masih berarti tiada

kepada separuh ruang kosong dibalik jiwa
kupinta Dia pilihkan aku sebuah permata beraroma kasturi
untuk menghiasi engkau yang selama ini berteman dinding sepi
dan akan kurampungkan syair tentangmu setelah penantian panjang nanti
hingga nanti aku dan permata beraroma kasturi yang menjadikannya indah

afm
Bdg, 21 jan 10

Read Full Post »

Luka

Tubuhku kaku…

Dalam waktu yang gagu…

Menunggu rindu…

Kakiku terpaku…

Dengan luka memaku…

Berdarah beku…

Dia tabu…

Hatinya ungu…

Dan aku biru…

Mati pun ia tak tahu…

Dasar batu…

Aku tak lagi menunggumu…

Read Full Post »

Militansi Salah Kaprah

Seperti kobaran api yang beku
Baranya hanyalah fatamorgana romantisme
Kehangatannya pun terhampar kaku
Menghampakan setiap jiwa – jiwa

Apakah ini yang dinamakan militansi?
tertusuk parang, lalu bersimpuh mencium tanah
Dalam sekarat menyanyikan lagu kebangsaan
Hingga akhir napas tanpa mengucap “La ila ha illallah”

Apakah ini yang dinamakan militansi?
Berdiri hormat menghadap bendera
Lalu mengalunkan puji – pujian kepada negara
Walaupun negara masih saja mengkhianati syahadah

Apakah ini yang dinamakan miltitansi?
Berteriak lantang sambil mengepalkan tangan
Ketika nama “Che Guevara” disebut
Lalu memalingkan muka sambil mencibir
Ketika shalawat atas nabi dikumandangkan

Apakah ini yang dinamakan militansi?
Bersorak hingga serak diatas tribun suporter
Lalu menangis sesenggukan melihat kekalahan
Menggadaikan nyawa untuk kepecundangan

Apakah ini yang dinamakan militansi?
Bernyanyi riang diatas panggung
Menyanyikan lagu – lagu cinta palsu
Kepalsuannya lah yang membuatnya menjadi lagu kesyirikan

Apakah ini yang dinamakan militansi?
Menganggukan kepala sambil mengacungkan telunjuk dan kelingking
Mencium gitar sambil menghisap ganja
Ketololannya lah hingga ia bersenggama dengan gitar

Muak !!!
Berangus seluruh militansimu kawan !!!
Jika bukan ditujukan untuk membela Islam
Karena jika bukan untuk Islam
Militansimu hanyalah keringat yang akan menguap
Dan darah yang akan mengering
Sebuah tulisan lama,
Bandung, 17 Desember 2007
Afif Mudrik

Read Full Post »

DAN KETIKA YAHUDI LEBIH FUNDAMENTAL DARIPADA ISLAM

Assalamu’alaikum.wr.wb saudaraku…
Saat ini Afif  lagi ada di kosant sendirian. Hari ini ngga ada kelas, mata kuliah udah abis. Tinggal nunggu UAS doang. Udah lama ngga nulis – nulis di blog. N terbersit lah judul nan panjang diatas. Sebenarnya itu cuma pikiran personal dalam diri Afif ketika melihat realita yang ada di sekitar kita.

Gempuran Israel terhadap Palestina tentu belum sirna dalam ingatan kita. Ribuan saudara kita mendapatkan syahid disana. Media massa telah mengambil peranannya untuk mengabarkan kepada kita tentang kebiadaban Israel. Lembaga – lembaga social, ormas masyarakat, kampus – kampus, mesjid – mesjid menghimpun dana untuk membantu para korban disana. Namun kebanyakan dari kita jarang menanyakan apa sebenarnya motif Israel menggempur Palestina selama kuran lebih 3 minggu yang menyebabkan ribuan saudara kita syahid dan sebagian besar diantaranya adalah wanita dan anak – anak.

Media massa umumnya menceritakan bahwa ini karena perseteruan HAMAS dengan Israel tanpa ada unsur perang Ideologis. Bisakah kita mentolerir alasan Israel menggempur Palestina untuk menghancurkan HAMAS, namun pada kenyataannya wanita dan anak – anak yang banyak terbunuh, mesjid – mesjid, rumah sakit, sekolah – sekolah, perumahan penduduk yang jadi sasaran tembak.

Jauh dibelakang itu semua, ada sebuah latar belakang yang memotivasi kaum Zionist untuk membumi hanguskan bumi Islam Palestina. Sebuah rujukan yang mereka implementasikan secara “kaffah”, itulah “Doktrin Talmud”. Kitab kaum Zionist dalam melatar belakangi gerak juangnya. Mereka tidak segan – segan untuk merealisasikan nilai – nilai fundamental yang ada dalam kitab tersebut. Yang menjadi pertanyaannya adalah apa sih isi dari Talmud sehingga membuat Yahudi menjadi manusia keji? Ini kurang lebih isinya :

Menganiaya seorang Yahudi Sama Dengan Menghujat Tuhan
Sanhedrin 58b, “Jika seorang kafir menganiaya seorang Yahudi, maka orang kafir itu harus dibunuh”.

Orang Yahudi Mempunyai Kedudukan Hukum yang Lebih Tinggi
Baba Kamma 37b, “Jika lembu seorang Yahudi melukai lembu kepunyaan orang Kanaan, tidak perlu ada ganti rugi; tetapi ,jika lembu orang Kanaan sampai melukai lembu kepunyaan orang Yahudi maka orang itu harus membayar ganti rugi sepenuh-penuhnya”.

Orang Yahudi Boleh Merampok atau Membunuh Orang Non-Yahudi
Sanhedrin 57a, “Jika seorang Yahudi membunuh seorang Cuthea (kafir), tidak ada hukuman mati,

Apa yang sudah dicuri oleh seorang Yahudi boleh dimilikinya”.
Baba Kamma 37b, “Kaum kafir ada di luar perlindungan hukum, dan Tuhan membukakan uang mereka kepada Bani Israel”.

Orang Yahudi Boleh Berdusta kepada Orang Non-Yahudi
Baba Kamma 113a, “Orang Yahudi diperbolehkan berdusta untuk menipu orang kafir”.

Yang Bukan-Yahudi adalah Hewan di bawah Derajat Manusia
Yebamoth 98a, “Semua anak keturunan orang kafir tergolong sama dengan binatang”.
Abodah Zarah 36b, “Anak-perempuan orang kafir sama dengan ‘niddah’ (najis) sejak lahir”.
Abodah Zarah 22a – 22b, “Orang kafir lebih senang berhubungan seks dengan lembu”.

Genosida Dihalalkan oleh Talmud
Perjanjian Kecil, Soferim 15, Kaidah 10, “Inilah kata-kata dari Rabbi Simeon ben Yohai, ‘Tob shebe goyyim harog’ (“Bahkan orang kafir yang baik sekali pun seluruhnya harus dibunuh”). Orang-orang Israeli setiap tahun mengikuti acara nasional ziarah ke kuburan Simon ben Yohai untuk memberikan penghormatan kepada rabbi yang telah menganjurkan untuk menghabisi orang-orang non-Yahudi2.

Di Purim, pada tanggal 25 Februari 1994 seorang perwira angkatan darat Israel, Baruch Goldstein, seorang Yahudi Orthodoks dari Brooklyn, membantai 40 orang muslim, termasuk anak-anak, tatkala mereka tengah bersujud shalat di sebuah masjid. Goldstein adalah pengikut mendiang Rabbi Meir Kahane, yang menyatakan kepada kantor berita CBS News, bahwa ajaran yang dianutnya mengatakan orang-orang Arab itu tidak lebih daripada anjing, sesuai ajaran Talmud”.3 Ehud Sprinzak, seorang profesor di Universitas Jerusalem menjelaskan tentang falsafah Kahane dan Goldstein, “Mereka percaya adalah teiah menjadi iradat Tuhan, bahwa mereka diwajibkan untuk melakukan kekerasan terhadap ‘goyyim’, sebuah istilah Yahudi untuk orang-orang non-Yahudi”.4

Rabbi Yizak Ginsburg menyatakan, “Kita harus mengakui darah seorang Yahudi dan darah orang ‘goyyim’ tidaklah sama”.5 Rabbi Jacov Perrin berkata, “Satu juta nyawa orang Arab tidaklah seimbang dengan sepotong kelingking orang Yahudi”.6

Itulah kurang lebih isi dari kitab Talmud yang merepresentasikan polah dan tingkah orang Yahudi. Mereka secara sadar mengimplementasikan nilai – nilai Talmud dalam kehidupan sehari – hari. Banyak orang Yahudi menjadi seorang professor untuk membuat persenjataan muktahir untuk menopang nilai – nilai Talmud, menjadi bisnisman fastfood yang berbagai mereknya telah akrab di telinga kita yang sebagian besar keuntungannya mereka “sumbangkan” untuk membiayai misi Zionist, menjadi sutradara film yang filmnya bercerita tentang pembelaan kaum Zionist. Menjadi pemusik handal yang liriknya mengusung ide – ide Talmud dan banyak lagi profesi – profesi lain yang membuat mereka berprestasi dalam bidangnya dan mempunyai pengaruh besar terhadap ideologi mereka.

Maka disinilah paradoks – paradoks kita sebagai umat Islam bermunculan. Kita yang mengaku umat Islam kadang malu untuk menunjukan identitas keislaman kita. Menjadi manusia seadanya tanpa adanya motivasi dari Islam. Menjadi manusia yang skeptis terhadap agamanya sendiri, phobia terhadap hukum – hukumnya, bahkan menghujat dan mengkritisinya secara tidak proporsional. Bahkan berpendapat bahwa nilai – nilai fundamental dalam Islam, seperti kekhalifahan contohnya menjadi hal yang utopis. Duhai saudaraku, tidak kah kita melihat kaum Yahudi di sana saja berani untuk mendirikan Negara Israel diatas tanah Palestina? Walaupun dengan berliter –liter darah, dengan kebatilan yang nyata – nyata terlihat.

Maka disinilah pertanyaan mendasarnya, ketika mereka lebih fundamental daripada Islam, ketika mereka lebih militan daripada Islam, ketika mereka lebih pintar daripada Islam, ketika mereka lebih menguasai teknologi daripada Islam, ketika mereka lebih berkuasa dalam ekonomi riba daripada kita dalam ekonomi syariah, ketika mereka lebih taat terhadap hukum Talmud daripada ketaatan kita terhadap hukum al-Quran, ketika mereka tidak mempunyai suri tauladan dan kita memilikinya, yaitu Baginda Muhammad SAW, dan ketika mereka bangga dan percaya diri dengan kebatilannya, maka mengapa kita tidak bangga dan percaya diri terhadap kesempurnaan agama kita yang Haq? TANYA KENAPA???

Read Full Post »